Selasa, 24 November 2015

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM AL QUR'AN

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “AL-QUR’AN”.
 Makalah ini berisikan tentang Pembelajaran Islam(al-qur’an) akan kami bahas secara lebih dalam, karena selain kita perlu memahami dan mengerti apa itu  al-qur’an, kita juga perlu mengetahui kandungan isi al-qur’an.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga dari makalah ini, kita dapat menambah pengetahuan mengenai al-qur’an.




















ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. Umat islam percaya bahwa Al-Qur’an merupakan puncak dan penutup Wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia, dan bagian dari rukun iman yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, melalui perantara Malaikat Jibril.
Dan sebagai Wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW, sebagaimana terdapat dalam surat Al-Alaq ayat 1-5. Al-Qur’an merupakan salah satu kitab yang mempunyai sejarah panjang yang dimiliki oleh umat Islam dan sampai sekarang masih terjaga keasliannya.
 Al-Qur’an dalam pengumpulannya mempunyai dua tahap yaitu tahap petama pengumpulan Al-qur’an dalam arti menghafal Al-Qur’an pada masa Nabi, tahap kedua dalam arti penulisan Al-Qur’an, hal ini dinamakan penghafalan dan pembukuan Al-Qur’an.
            Setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW, proses pengmpulan Al-Qur’an terus dilaksanakan oleh para khalifah sehingga terbentuklah Mushaf Usmani seperti yang ada pada saat sekarang ini.
             Penyebaran islam bertambah luas  membuat para Qurra pun tersebar dan memiliki latar bealakang yang berbeda sehingga menimbulkan perbedaan dalam membaca Al-Qur’an. Hal ini menimbullkan kecemasan dikalangan sahabat. Sehingga Khalifah Usman bin Affan memerintahkan keempat orang quraisy yaitu, Zaid bin Zabit, Abdullah bin Azzubar, Said bin Al-ash, Abdulrahman bin Al-harisi bin hysam. Keempat orang tersebutlah yang ditugas untuk menyalin dan memperbanyak Al-Qur’an dengan satu pedoman dalam cara-cara membacanya, hal ini telah di sepakati oleh para sahabat.
Dan Al-Qur’an juga memiliki multi fungsi dan selalu mempunyai hubungan yang pasti dalam fenomena-fenomena kehidupan, hal ini diantaranya mukjizat, akidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, hukum, sejarah, dan dasar-dasar sains. 
Untuk itulah materi ini sangat penting untuk dipelajari, karena sangat disayangkan jika umat Islam tidak tahu apa itu Al-Qur’an tersebut. Hal inilah penulis berkeinginan membahas tentang Al-quran



1

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Al-Qur’an ?
2.      Bagaimana Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an ?
3.      Bagaimana isi pokok ajaran Al-Qur’an ?
4.      Apa fungsi, tujuan dan kedudukan Al-Qur’an ?
1.3 Tujuan Pembahasan
1.      Mahasiswa mampu mengetahui pengertian Al-Qur’an tersebut.
2.      Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana sejarah kodifikasi Al-Qur’an.
3.      Mahasiswa mampu mengetahui Bagaimana isi pokok ajaran Al-Qur’an.
4.      Mahasiswa mampu mengetahui fungsi, tujuan dan kedudukan Al-Qur’an.
1.4 Manfaat Pembahasan

1.      Mampu mengetahui pengertian Al-Qur’an tersebut.
2.      Mampu mengetahui sejarah kodifikasi Al-Qur’an.
3.      Mampu mengetahui bagaimana isi pokok ajaran Al-Qur’an.
4.      Mampu mengetahui fungsi,tujuan,dan kedudukan Al-Qur’an















2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci (kalam ilahi) yang diwahyukan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW.Ia berfungsi sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam menjalankan hidup dan kehidupannya.Secara etimologis kata benda Al-Qur’an berasal dari kata kerja qara’a yang mengandung arti:(1) Mengumpulkan atau menghimpun,(2) Membaca atau mengkaji.Jadi kata Al-Qur’an berarti kumpulan atau himpunan atau bacaan.
Adapun definisi Al-Qur’an secara terminologis,seperti yang banyak diungkapkan oleh para ulama adalah firman Allah (kalamullah) yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.(melalui Malaikat Jibril) untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia,dan merupakan ibadah dalam membacanya.Berdasarkan definisi tersebut,maka wahyu atau firman Allah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelum nabi Muhammad SAW. Tidak dinamakan Al-Qur’an,sebab setiap wahyu atau kitab suci yang diberikan kepada para nabi dan rasul,Allah langsung memberikan namam kitab suci tersebut.Seperti wahyu yang diturunkan kepada nabi Musa dinamakan Taurat atau wahyu yang diturunkan nabi Isa dinamakan Injil,atau wahyu yang diturunkan kepada nabi Daud dinamakan Zabur bahkan adapula wahyu Allah yang diturunkan pada nabi Muhammad SAW.tidak dimuat dalam Al-Qur’an atau tidak dinamakan Al-Qur’an.Melainkan disebut dengan hadis qudsi atau hadis rabbani atau hadis ilahi.yang dimaksut dengan hadis ini adalah sesuatu yang dikabarkan Allah kepada nabi dengan melalui ilham atau mimpi,kemudian nabi menyampaikan makna dari ilham atau mimpi tersebut dengan ungkapan kata nabi sendiri.
Begitu juga,penamaan kitab suci Al-Qur’an,langsung di berikan oleh Allah SWT.melalui wahyu-NYA.Seperti terdapat dalam surat Al-Baqarah[2]:185,Al-An’an[6]:19,thaha[20]:2,Asy-Syurah[42]:7,dan surat Al-Hasyr[59]:21.Keberadaan teks Al-Qur’an yang tersusun dalam 114 surat dengan 6236 ayat,74437 kalimat dan 325345 huruf.Semenjak diturunkanya hingga sekarang bahkan hingga akhir zaman tidak akan mengalami perubahan sedikitpn,tetap akan terjaga kemurnian dan keasliannya(otentisitasnya).


3
Awal turunnya al-quran adalah bersamaan dengan diangkatnya Nabi Muhammad SAW. Sebagai Rasul Allah dalam usianya 40 tahun. Al-quran turun ketika Nabi Muhammad SAW. Sedang berkhalwat di gua hira’ pada malam senin tanggal 17 ramadhan yang bertepatan dengan 6 agustus 610 masehiyah. Malam peristiwa ini dinamakan dengan malam qodar atau lailatul al qodar. Ayat- ayat yang pertama kali  turun adalah 5 ayat dari surat al-alaq sedangkan ayat yang terakhir kali turun adalah Qs al-maidah (5):3.
2.2 Kodifikasi AL-Quran
Al-Quran turun kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak sekaligus, ia turun secara berangangsur-angsur dalam jangka waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Urutan turunnya pun tidak sebagaimana susunan yang ada sekarang, tetapi ia turun terpisah-pisah. Ayat-ayat turun itu ada kalanya karena suatu sebab (asababan-nuzul), tapi ada kalanya tanpa suatu sebab apapun, dan yang terakhir inilah yang banyak terjadi.
Kodifikasi Al-Qur’an pada dasarnya telah dilakukan pada saat rasul masih hidup.Hanya saja pengumpulan Al-Qur’an dalam bentuk mushaf secara tersusun ayat-ayat dan surat-suratnya dengan sempurna,belum dilakukan,karena pada saat itu turunya Al-Qur’an masih berlangsung.Begitu juga,karena setelah wahyu diturunkan secara sempurna tidak lama kemudian rasulullah SAW. Wafat,sehingga tidak cukup waktu untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur’an dan menyusunnya dalam satu mushaf secara sempurna.Mengenai susunan ayat dan tertib surat yang ada sekarang ini menyusul kemudian,dilakukan oleh para sahabat yang terbentuk dalam sebuah panitia ad-hoc penyusun mushaf Al-Qur’an.Panitia ini diketuai oleh seorang sahabat yang ahli baca-tulis,yaitu Zaid bin Tsabit
Kendatipun Al-Qur’an pada masa rosul belum tersusun dalam musham secara sempurna,namun rosul sebelum wafatnya mengumumkan kepada para sahabatnya tentang bentuk susunan mushaf AlQur’an,sehingga setelah rosul wafat para sahabat terutama sahabat-sahabat yang hafal Al-Qu’an(Huffazh)telah mengetahui jelas tentang bentuk susunan mushaf Al-Qur’an sesuai dengan petunjuk rosul tersebut.




                                                
4
Setelah rosulullah SAW. Wafat,seluruh ayat Al-Qur’an sudah tertulis namun masih berserakan atau belum terkumpul dalam satu mushaf.pada masa kekhalifahan Abu Bakar,Umar bin khatab mengusulkan kepada Abu bakar agar Al-Qur’an ditulis kembali dan di kumpulkan dalam satu mushaf.Setelah abu bakar wafat kemudian mushaf Al-Qur’an di pegang oleh Umar bin khatab yang pada saat itu memegang kekhalifahan setelah Abu bakar,dan setelah Umar bin khatab wafat,mushaf Al-Qur’an di pegang oleh anaknya yaitu Hafsah binti Umar.
Utsman bin Affan yang pada saat itu menggantikan kekhalifahan Umar bin Khatab menggandakan mushaf Al-Qur’an menjadi lima buah yang aslinya di simpan di rumahnya,dan yang empat buah lainnya di sebarkan ke berbagai daerah sebagai rujukan dan pasar pemerintahan atau bernegara di daerah-daerah yang telah menjadi kekuasaan islam.Sejak saat itu,mushaf Al-Qur’an yang empat di jadikan rujukan atau standar bagi penulisan mushaf-musaf Al-Qur’an,selanjutnya yang tersebar di seluruh dunia islam.Sampai sekarang Al-Qur’an yang tersebar di seluruh dunia,semuanya sama tidak terdapat perbedaan di dalamnya.
Ø  Makkiyah dan Madaniyah
              Sedangkan menurut tempat diturunkannya, setiap surat dapat dibagi atas surat – surat Makkiyah ( surat Mekkah ) dan Madaniyah ( surat Madinah ). Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu penurunan surat dan ayat tertentu di mana surat – surat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah digolongkan surat Makkiyah sedangkan setelahnya tergolong surat Madaniyah.
             Surat yang turun di Makkah pada umumnya suratnya pendek – pendek, menyangkut prinsip – prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia. Sedangkan yang turun di Madinah pada umumnya suratnya panjang – panjang, menyangkut peraturan – peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan atau seseorang dengan lainnya ( syari'ah ). Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini lebih tepat, sebab ada surat Madaniyah yang turun di Mekkah Nama lain Al-Qur'an.



5
2.3
a. Nama-nama lain dari wahyu ini (al-quran), di antaranya adalah :
1.      Al-Furqan artinya pembeda atau pemisah. Sebagai pedoman hidup dan kehidupan manusia, al-quran menyajikan norma dan etika secara jelas,tegas dan tuntas sehingga terpisahkan antara norma-norma yang hak dan batil.
2.      Az-Dzikir artinya peringatan. Nama ini menunjukkan fungsi al-quran sebgai motivator amal Nama-nama dan Kandungan AL-Quran yaitu agar manusia beramal baik dan konsisten dengan kebajikannya,sebab seluruh amal akan di minta pertanggungjawabannya kelak di hari pembalasan.
3.      Al-Huda artinya petunjuk. Nama ini menunjukkan fungsi al-quran selaku yang hanya dengannya manusia dapat mencapai ridho allah SWT.
4.      Al-Kalam artunya ucapan atau pembicaraan. Nama ini menunjukkan bahwa al-quran seluruhnya ucapan allah SWT. Dalam kaitan ini terkandung jaminan bahwa al-quran itu suci dan lurus sebab datang dari yang Mahasuci dan Mahabenar.
5.      Al-Kitab artinya sesuatu yang di tulis. Dalam nama ini terkandung isyarat perintah kepada Nabi agar menuliskan wahyu allah,dan mengandung prediksi bahwa al-quran akan menjadi mushaf abadi yang dapat di tulis dan di baca.
6.      Al-Nuur artinya cahaya. Nama ini menunjukkan fungsi al-quran sebagai penerang atau pemberi cahaya dalam kegelapan.
7.      Asy-Syifa artinya obat(penawar). Nama ini menunjukkan bahwa al-quran memiliki fungsi sebagai obat,penawar atau penyembuh.
b. Isi kandungan Al-quran
Isi kandungan al-quran,pada garis besarnya mengandung pokok-pokok ajaran sebagai berikut:
1.      Prinsip-prinsip keimanan yakni doktin kepercayaan untuk meluruskan dan menyempurnakan keyakinan dan kepercayaan,seperti keimanan kepada allah SWT,Malaikat,Kitab,Rasul,Hari akhir dan lain-lain.
2.      Prinsip-prinsip Syariah yakni hukum-hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya,manusia dengan manusia,dan hubungan manusia dengan makhluk lainnya atau alam sekitarnya.



6
3.      Janji dan ancaman seperti janji kepada orang-orang yang berbuat baik, dan ancaman kepada orang-orang yang berbuat jahat atau dosa.
4.      Sejarah atau kisah-kisah masa lalu, seperti kisah para Nabi dan Rasul, orang-orang Saleh dan salah, masyarakat atau bangsa-bangsa terdahulu.
5.      Ilmu pengetahuan yakni informasi-informasi tentang manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan,langit, bumi, matahari, bulan, bintang, dan lain sebagainya.
2.4 Fungsi, Tujuan dan Kedudukan Al-Qur’an
Adapun fungsi dan tujuan Al- Qur’an  diturunkan sebagai berikut :
1. Sebagai petunjuk manusia
Sudah tidak diragukan lagi bahwa Al- Qur’an  memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syari’ah, dan akhlak. Dan Allah SWT telah menugaskan Rasul SAW untuk memberikan keterangan yang  lengkap.
2.  Sumber pokok ajaran Islam
Allah SWT telah menjelaskan dengan firmannya, antara lain :
QS :Al-An’am.
Sudah tidak disangkal lagi bahwa didalam Al- Qur’an  Allah telah menerangkansegala sesuatu yang diperlukan manusia, baik didunia maupun di akhirat.
 Di dalam Al- Qur’an, Allah SWT telah menjelaskan kaidah-kaidah syari’at serta hokum-hukumnya yang cocok untuk diterapkan didalam disegala zaman dan tempat, serta diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Tidak dibatasi untuk suatu golongan atau suatu bangsa saja.
              Dan didalam Al- Qur’an, Allah menerangkan hukumyang menyeluruh ( kully ), akidah yang tegas, dalil atau hujjah yang kua tdan akurat untuk menyatakan kebenaran agama Islam. Karena itulah, maka Al- Qur’an  dapat berlaku sepanjang zaman, hokum-hukumnya yang menyeluruh terus dijadikan sumber hokum bagi hokum-hukum yang lain.






7
3. Peringatan dan pelajaran bagi manusia
   Di dalam Al- Qur’an  , banyak terdapat kisah para Nabi atau Rasul beserta umatnya. Ada yang mengungkapkan kebaikan-kebaikannya yaitu kepatuhan dan ketaatan umat kepada Rasulnya, dan ada yang mengungkapkan keburukan-keburukannya yaitu keingkarandan kesembongan umat kepada Rasulnya.
Kesemuanya itu merupakan peringatan an pelajaran bagi kita. Kisah-kisah dalam Al- Qur’an  tidak hanya dimaksudkan untk menguraikan sejarah, melainkan yang terpenting ialah menggambarkan bagaimana cara yang ditempuholeh para Nabidan Rasul terdahuludalam mengembangkan dan menyeru kepada kebenaran.
 Dan bagaimana tantangan dan penderitaan yang mereka hadapi yang merupakan peringatan dan pelajaranyang sangat berharga bagi para penegak agama yang membawa kebenaran yang hakiki.
Adapun kedudukan Al- Qur’an  dalam Islam
Bagi umat islam bahwa Al- Qur’an  adalah sumber yang asasi bagi syari’at ( hokum)
     islam. Dari Al- Qur’an  lah dasar-dasar hokum islam beserta cabang-cabangnya digali.
Agama islam, agama yang dianut oleh ratusan juta jiwa diseluruh dunia merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya didunia dan di akhirat kelak.
 Agama islam datang dengan Al- Qur’an membuka lebar-lebar mata manusia, agar mereka menyadari jati diri dan hakikat keberadaan mereka dipentas bumi ini. Dan juga mereka tidak terlena dengan kehidupan ini, sehingga mereka tidak menduga bahwa hdup merekahanya dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian.
 Al- Qur’an   mengajak mereka berpikir tentang kekuasaan Allah, untuk mencapai kebahagiaan hidup diakhirat kelak manusia memerlukan peraturan-peraturan untuk mencapaihaltersebut.





8
Fungsi Al-Quran tersebut dapat di lihat dari peranatau pengaruhnya terhadap kehidupan umat manusia sepanjang sejarahnya. Seperti yang diikemukakan oleh Mohammad Abdul Adhim Az-Zarqoni, dia menjelaskan tentang perbaikan dan pembaharuan yang di ciptakan AL-Quran dalam sejarah kehidupan umat manusia, diantaranya :
1.      Perbaikan dalam bidang akidah
2.      Perbaikan dalam bidang ibadah
3.      Pemmbaharuan di bidang akhlak
4.      Perbaikan dalam bidang kehidupan bermasyarakat
5.      Perbaikan dalam bidang politik ketatanegaraan
6.      Perbaikan dalam lapangan ekonomi
7.      Perbaikan tentang kedudukan wanita
8.      Perbaikan tentang sistem dan aturan peperangan
9.      Memberantas perbudakan
10.  Memerdekakan akal dan pikiran
11.  Perbaikan-perbaikan dan pembaharuan di bidang lainnya
2.5 Tafsir Al-Quran
a.Pengertian Tafsir
 Menurut bahasa, kata tafsir di ambil dari kata fassarayafassiru tafsiran yang di artinya adalah keterangan atau penjelasan, atau menerangkan dan mengungkapkan sesuatu yang tidak jelas. Tafsir al-quran adalah penjelasan atau keterangan-keterangan tentang firman Allah SWT. Yang berhubungan dengan mkna dan tujuan kandungannya atau keterangan dan penjelasan tentang susunan kata atau kalimat yang di gunakan di dalammnya.
Pengertian tafsir tersebut, pada dasarnya tidak akan lepas dari kandungan mkna yang bersifat menjelaskan (al-idhahah), menerangkan (al-bayan),mengungkapkan (al-khasyf),
      menampakkan (al-izhhar),dan memperjelas (al-ibanah).
Nilai-nilai kebenaran tafsir al-quran bersifat relatif atau tidak pasti, sedangkan nilai-nilai kebenaran bersifat pasti dan mutlak. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan dalam penafsiran al-quran sangat memungkinkan untuk terjadi yang di pengaruhi oleh latar belkang atau di siplin ilmu, metode dan corak yang di gunakan oleh para penafsirannya sendiri.

9
b. Kodifikasi Al-quran
Al-quran di turunkan dalam bahasa Arab yang jelas (fashih). Kalau yang digambarkan di atas tentang sejarah perkembangan Tafsir dari segi corak penafsiran, maka perkembangan dapat pula ditinjau dari segi kodifikasi (penulisan), hal mana dapat dilihat dalam tiga periode: Periode I, yaitu masa Rasul SAWW, sahabat, dan permulaan masa tabi'in, di mana Tafsir belum tertulis dan secara umum periwayatan ketika itu tersebar secara lisan. Periode II, bermula dengan kodifikasi hadis secara resmi pada masa pemerintahan 'Umar bin 'Abdul 'Aziz (99-101 H). Tafsir ketika itu ditulis bergabung dengan penulisan hadis-hadis, dan dihimpun dalam satu bab seperti bab-bab hadis, walaupun tentunya penafsiran yang ditulis itu umumnya adalah Tafsir bi al-Ma'tsur. Dan periode III, dimulai dengan penyusunan kitab-kitab Tafsir secara khusus dan berdiri sendiri, yang oleh sementara ahli diduga dimulai oleh al-Farra (w. 207 H) dengan kitabnya yang berjudul Ma'ânî al-Qur'an.
c. Jenis,Metode dan Corak Tafsir Al-Quran
Menurut Nashiruddin Baidan, metode penafsiran al-Qur’an terbagi menjadi empat macam, yaitu:
1.      Metode Ijmali (global)
Metode ijmali ialah metode dalam menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an secara ringkas tetapi mencakup, dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan enak dibaca. Sistematika penulisannya menuruti susunan ayat-ayat di dalam mushaf. Di samping itu, penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa al-Qur’an, sehingga pendengar dan pembacanya seakan-akan masih tetap mendengar al-Qur’an, padahal yang didengar adalah tafsirnya.[1][1]
2.      Metode Tahlili (analitis)
Metode tahlili ialah metode dalam menjelaskan al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu, serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut.


Sistematika penulisannya menuruti susunan ayat-ayat dan surat-surat di dalam mushaf. Tafsir dengan metode tahlili tersebut menguraikan berbagai aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan, seperti pengertian kosa kata, konotasi kalimatnya, latar belakang turunnya ayat, keterkaitan dengan ayat lain (munasabah), dan pendapat-pendapat yang telah ada berkenaan dengan penafsiran ayat-ayat tersebut, baik yang disampaikan oleh Nabi, sahabat, tabi’in, maupun ahli tafsir lainnya.
3.      Metode Muqarin (komparatif)
Metode muqarin ialah membandingkan teks (nash) ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kesamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang berbeda bagi satu kasus yang sama. Istilah lain ialah membandingkan ayat-ayat al-Qur’an dengan Hadis yang pada lahirnya terlihat bertentangan, atau juga diartikan dengan membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan al-Qur’an.
4.      Metode Maudhu’i (tematik)
Metode maudhu’i ialah membahas ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan, dihimpun, kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya seperti asbab al-nuzul, kosakata, dan lain sebagainya.

Corak penafsiran dalam literatur sejarah tafsir biasanya diistilahkan dalam bahasa Arab yaitu laun yang arti dasarnya warna. Corak penafsiran yang dimaksud di sini ialah nuansa khusus atau sifat khusus yang memberikan warna tersendiri pada tafsir.
Selanjutnya, corak penafsiran al-Qur’an dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.      Tafsir bercorak sufi
Tafsir berorak sufi ialah tafsir dengan kecenderungan men-ta’wil-kan al-Qur’an selain dari apa yang tersirat, dengan berdasar pada isyarat-isyarat yang nampak pada ahli ibadah.





11
2.      Tafsir bercorak lughawi (adabi)
      Tafsir bercorak lughawi ialah kecenderungan tafsir dengan memfokuskan penafsiran pada bidang bahasa. Penafsirannya meliputi segi i’rab, harakat, bacaan, pembentukan kata, susunan kalimat dan kesusastraannya. Tafsir semacam ini selain menjelaskan maksud-maksud ayat-ayat al-Qur’an juga menjelaskan segi-segi kemu’jizatannya.
3.      Tafsir bercorak ijtima’i (sosial masyarakat)
Tafsir ini memiliki kecenderungan kepada persoalan sosial kemasyarakatan. Tafsir jenis ini lebih banyak mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan kebudayaan masyarakat yang sedang berlangsung.
4.      Tafsir bercorak fiqih
Tafsir bercorak fiqih ialah kecenderungan tafsir dengan metode fiqih sebagai basisnya, atau dengan kata lain, tafsir yang berada di bawah pengaruh ilmu fiqih, karena fiqih sudah menjadi minat dasar mufasirnya sebelum dia melakukan usaha penafsiran.[2][8] Tafsir semacam ini seakan-akan melihat al-Qur’an sebagai kitab suci yang berisi ketentuan perundang-undangan, atau menganggap al-Qur’an sebagai kitab hukum.
5.      Tafsir bercorak filsafat
Tafsir bercorak filsafat ialah kecenderungan tafsir dengan menggunakan teori-teori filsafat, atau tafsir dengan dominasi filsafat sebagai pisau bedahnya. Tafsir semacam ini pada akhirnya tidak lebih dari deskripsi tentang teori-teori filsafat.
6.      Tafsir bercorak ilmiah
Tafsir bercorak ilmiah adalah kecenderungan menafsirkan al-Qur’an dengan memfokuskan penafsiran pada kajian bidang ilmiah, yakni untuk menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan alam. Atau tafsir yang memberikan hukum terhadap istilah alamiah dalam ibarat al-Qur’an.






7.      Tafsir bercorak kalam (teologi)
Tafsir bercorak kalam ialah tafsir dengan kecenderungan pemikiran kalam, atau tafsir yang memiliki warna pemikiran kalam. Tafsir semacam ini merupakan salah satu bentuk penafsiran al-Qur’an yang tidak hanya ditulis oleh simpatisan kelompok teologis tertentu, tetapi lebih jauh lagi merupakan tafsir yang dimanfaatkan untuk membela sudut pandang teologi tertentu. Paling tidak tafsir model ini akan lebih banyak membicarakan tema-tema teologis dibanding mengedepankan pesan-pesan pokok al-Qur’an.

























13
BAB III
     PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Al-Qur’an sebagai wahyu dan mukjizat terbesar Rasulullah SAW. Mempunyai dua pengertian , yaitu pengertian secara Etimologi ( bahasa ) dan pengertian menurut terminologi ( istilah )
Al- Qur’an tidak  diturunkan secara sekaligus, Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur selama  22 tahun 2 bulan 22 hari.  Para ulama membagi masa turunnya Al-qur’an  ini di bagi menjadi dua periode, yaitu periode Mekkah dan perode Madinah.
Kodifikasi atau pengumpulan Al- Qur’an  sudah dimulai sejak zaman Rasulullah saw, Saat Rasulullah saw masih hidup, ada beberapa orang yang ditunjuk untuk menulis Al-Qur’an yaitu Zaid bin Zabit, Ali bin Abithalib, Muawiyah bin abu Sofyan, Ubay bin Kaab. Nabi juga memerintahkan para sahabat utuk menuliskannya diatas pelepah-pelepah kurma, lempeng-lempengan batu, dankeping-keping tulang.
Pada masa pemerintahan Abu Bakar, pada masa kekhalifahannya terdapat perang yang sangat besar ( perang Ridda ). Dan menewaskan para hafish yang signifikan. Hal ini membuat Umar bin khatab sangat khawatir, ia menyuruh Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al- Qur’an.
Pada masa Usman bin Affan terdapat keragaman dalam membaca Al- Qur’an, yang menyebabkan adanya perbedaan dialek antara suku-suku yang berbeda-beda.   Usman bin Affan khawatir dengan perbedaan tersebut, ia ingin menyalin dan membukukan Al-Qur’an atau menjadikan mushaf. Dalam melakukan pembukuan ini   Usman bin Affan menyuruh Zaid bin Zabit, Abdullah bin Azzubar, Said bin Al-ash, Abdulrahman bin Al-harisi bin hysam. Hingga pada saat ini Al- Qur’an  yang kita pakai adalah hasil dari transformasi pada zaman Usman bin Affan.
Adapun isi pokok ajaran islam yaitu Masalah akidah Masalah hukum, Masalah ibadah, Masalah sejarah, Masalah mu’amalah, Masalah sains, Masalah akhlak, Masalah hokum.
Adapun fungsi dan tujuan Al- Qur’an  diturunkan sebagai berikut, petunjuk bagi manusia, sumber pokok ajaran islam, peringatan dan pelajaran bagi manusia.



14
  Adapun kedudukan Al- Qur’an  dalam Islam sebagai sumber yang asasi bagi syariat (hukum) islam. Dan peraturan-peraturan bagi setiap umat muslim untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
3.2 Saran
Sebagai penyusun, penulis merasa masih ada kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh karena itu, saya mohon kritik dan saran dari pembaca. Agar penulis dapat memperbaiki makalah yang selanjutnya.
























15
Soal Pilihan Ganda dan Uraian
Soal Pilihan Ganda
1.      Kitab Suci (Kallam Illahi) yang di wahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang berfungsi sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia dalam menjalankan hidup dan kehidupannya di sebut…
a.       Al-Quran              c. Suhuf                       e.
b.      Kitab                     d.
2.      Pada usia berapa Nabi Muhammad di angkat sebagai Rasul Allah…
a.       55 tahun                c. 45 tahun                  e. 30 tahun
b.      50 tahun                d. 40 tahun
3.      Ucapan atau pembicaraan yang berfungsi untuk menunjukkan bahwa Al-Quran seluruhnya ucapan Allah SWT di sebut…
a.       Al-Huda                c. Al-Kalam                e. Al-Nuur
b.      Al-Furqan              d. Al-Kitab
4.      Hukum-hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan makhluk lainnya atau alam sekitarnya di sebut prinsip…
a.Prinsip keimanan        c. Janji dan ancaman    e. Ilmu Pengetahuan
b.Prinsip Syariah         d. Sejarah
5    Menafsirkan ayat-ayat Al-Quran secara global yang artinya seorang penafsir berupaya menjelaskan makna ayat-ayat Al-Quran dengan uraian singkat dan jelas, sehingga mudah dipahami oleh semua orang di sebut metode…
a.Metode Muqaran      c. Metode Tematik      e.Metode Ijmali
b.Metode Maudlu’i     d.Metode Tahlili









16
Soal Uraian
1.      Apa definisi AL-Quran secara Etimologis dan Terminologis?
Jawab : Secara Etimologis kata AL-Quran berasal dari qara’a yang mengandung arti yaitu mengumpulkan atau menghimpun,membacaca atau mengkaji. Jadi kata AL-Quran berarti kumpulan atau himpunan atau bacaan.
Secara Terminologis seperti yang banyak diungkapkan oleh para ulama adalah firman Allah (kalamullah) yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.(melalui Malaikat Jibril) untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia,dan merupakan ibadah dalam membacanya.Berdasarkan definisi tersebut,maka wahyu atau firman Allah yang diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.
2.      Bagaimana awal turunnya AL-Quran?
Jawab : Awal turunnya al-quran adalah bersamaan dengan diangkatnya Nabi Muhammad SAW. Sebagai Rasul Allah dalam usianya 40 tahun. Al-quran turun ketika Nabi Muhammad SAW. Sedang berkhalwat di gua hira’ pada malam senin tanggal 17 ramadhan yang bertepatan dengan 6 agustus 610 masehiyah. Malam peristiwa ini dinamakan dengan malam qodar atau lailatul al qodar. Ayat- ayat yang pertama kali  turun adalah 5 ayat dari surat al-alaq sedangkan ayat yang terakhir kali turun adalah Qs al-maidah (5):3.
3.      Sebutkan dan jelaskan nama-nama lain dari AL-Quran?
Jawab :
1.  Al-Furqan artinya pembeda atau pemisah. Sebagai pedoman hidup dan kehidupan manusia, al-quran menyajikan norma dan etika secara jelas,tegas dan tuntas sehingga terpisahkan antara norma-norma yang hak dan batil.
2. Az-Dzikir artinya peringatan. Nama ini menunjukkan fungsi al-quran sebgai motivator amal yaitu agar manusia beramal baik dan konsisten dengan kebajikannya,sebab seluruh amal akan di minta pertanggungjawabannya kelak di hari pembalasan.
3. Al-Huda artinya petunjuk. Nama ini menunjukkan fungsi al-quran selaku yang hanya dengannya manusia dapat mencapai ridho allah SWT.


17
4. Al-Kalam artunya ucapan atau pembicaraan. Nama ini menunjukkan bahwa al-quran seluruhnya ucapan allah SWT. Dalam kaitan ini terkandung jaminan bahwa al-quran itu suci dan lurus sebab datang dari yang Mahasuci dan Mahabenar.
5. Al-Kitab artinya sesuatu yang di tulis. Dalam nama ini terkandung isyarat perintah kepada Nabi agar menuliskan wahyu allah,dan mengandung prediksi bahwa al-quran akan menjadi mushaf abadi yang dapat di tulis dan di baca.
6. Al-Nuur artinya cahaya. Nama ini menunjukkan funsi al-quran sebagai penerang atau pemberi cahaya dalam kegelapan.
7. Asy-Syifa artinya obat(penawar). Nama ini menunjukkan bahwa al-quran memiliki fungsi sebagai obat,penawar atau penyembuh.






















18
Daftar Pustaka
H.p Akhmad Yasin. 2002. Modul Pendidikan Islam. Diponegoro Wilian.
Http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur%27an diperoleh tanggal 20 November 2012.
 Http://ponpes-online.blogspot.com/2012/03/fungsi-dan-pengertian-al-quran.html diperoleh tanggal Rabu, Maret 21, 2012.
Ibid., 65. Lihat pula Abd. Hayy al-Farmawi, Al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudhu’i, (Mesir: Mathba’ah al-Hadharat al-‘Arabiyyah, 1997), 45-46
Nashiruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Qur’an, (Yogyakarta: Pelajar Offset, 1998), 13
























19

1 komentar:

  1. Best eCOGRA Sportsbook Review & Welcome Bonus 2021 - CA
    Looking for an nba매니아 eCOGRA apr casino Sportsbook Bonus? deccasino At this eCOGRA Sportsbook review, we're talking about a 1xbet korean variety of ECCOGRA sportsbook promotions. goyangfc

    BalasHapus