BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menyimak memiliki
makna mendengarkan atau memperhatikan baik-baik apa yang dikatakan oleh oarang
lain. Jelas faktor kesengajaan dalam menyimak sangat besar, lebih besar
daripada mendengarkan karena dalam kegiatan menyimak ada usaha untuk memahami
apa yang disimaknya sedangkan dalam kegiatan mendengarkan tingkatan pemahaman belum
dilakukan. (Sutari dkk 1997 : 17).
Menurut Anderson
(dalam Sutari dkk. 1997 : 19) dalam ketrampilan menyimak, kemampuan
menangkap dan memahami makna pesan baik yang tersurat maupun yang
tersirat yang terkandung dalam bunyi, unsur kemampuan mengingat pesan, juga
merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengertian menyimak.
Maka dengan demikian
menyimak dapat dibatasi sebagai proses besar mendengarkan, menyimak, serta
menginterpretasikan lambang-lambang lisan. Menyimak adalah suatu proses
kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman,
apresiasi, serta interperensi untuk memperoleh informasi, menangkap isi
atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh
sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Tarigan 1994 :
28).
Menurut Sabarti
Akhadi-at (dalam Sutari dkk. 1997 : 19) menyimak ialah suatu proses yang
mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi,
mengintepretasikan dan mereaksi atas makna yang terkandung.
Berdasarkan para ahli
dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarakan
lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi dan
interpretasi untuk memperoleh pesan, informasi, serta memahami makna
komunikasi yang disampaikan oleh pembicara melaui ujaran atau bahasa lisan.
Tujuan Menyimak :
Logan dan kawan-kawan
mengklasifikasikan menyimak atas dasar tujuan khusus/spesifik (Sutari dkk 1994
: 32). Menurut mereka ada tujuh ragam menyimak yang perlu dikembangkan melaui
pengajaran bahasa bagi siswa di sekolah. Ragam dan penjelasan setiap tujuan
menyimak tersebut adalah sebagai berikut ini.
1. Menyimak untuk
belajar; melaui kegiatan menyimak seseorang mempelajari beberapa hal yang
dibutuhkan. Misalnya para siswa menyimak guru bahasa, sejarah, dan
sebagainya, menyimak siaran radio, televisi, diskusi, dan sebagainya.
2. Menyimak untuk
menghibur; penyimak menyimak sesuatu untuk menghibur dirinya, misalnya menyimak
pembicaraan cerita lucu, dagelan, pertunjukan sandiwara, film dan
sebagainya.
3. Menyimak untuk
menilai; penyimak mendengarkan dan memahami simakan, kemudian menelaah,
mengkaji, menguji, membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan menyimak.
4. Menyimak apresiatif;
penyimak memahami, menghayati, mengapresiasi materi simakan. Misalnya menyimak
pembacaan puisi, cerita pendek, roman, menyimak pertunjukan sandiwara.
5. Menyimak untuk
mengomunikasikan ide dan perasaan penyimak memahami, merasakan gagasan, ide,
perasaan pembicara sehingga sambung rasa antara pembicara dengan pendengar.
6. Menyimak
deskriminatif; menyimak untuk membedakan suara dan bunyi. Dalam belajar bahasa
inggris, misalnya siswa harus bisa membedakan bunyi [i] dan [ã].
7. Menyimak pemecah
masalah; penyimak mengikuti uraian pemecah masalah secara kreatif dan analitis
yang disampaikan oleh pembicara. Mungkin juga penyimak dapat memecahkan masalah
yang dihadapinya secara kreatif dan analitis yang setelah bersangkutan
mendapat informasi dari menyimak sesuatu tersebut.
Tujuan orang untuk
menyimak itu beraneka ragam. Dalam hal ini kegiatan menyimak mempunyai delapan
tujuan menyimak diantaranya yaitu: (1) menyimak untuk belajar; (2) menyimak
untuk menikmati; (3) menyimak untuk mengevaluasi; (4) menyimak untuk
mengapresiasi; (5) menyimak untuk mengomunikasi; (6) menyimak untuk
membedakan bunyi-bunyi; (7) menyimak untuk memecahkan masalah; (8) menyimak
untuk meyakinkan (Tarigan 1994:57).
Dari dua pendapat di
atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian keterampilan menyimak pada pembelajaran
menyimak ini mempunyai tujuan untuk mengapresiasi dongeng yang disimak. Dengan
tujuan tersebut siswa dapat memahami unsur-unsur yang terkandung dalam dongeng.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas
penulis mengangkat masalah :
1. Jelaskan faktor fisik yang dapat
mempengaruhi menyimak?
2. Jelaskan faktor psikologis yang
dapat mempengaruhi menyimak ?
3. Jelaskan faktor pengalaman yang
dapat mempengaruhi menyimak ?
4. Jelaskan faktor sikap yang dapat mempengaruhi menyimak ?
5. Jelaskan faktor motivasi yang dapat
mempengaruhi menyimak ?
6. Jelaskan faktor jenis kelamin yang
dapat mempengaruhi menyimak ?
7. Jelaskan faktor lingkungan yang
dapat mempengaruhi menyimak ?
8. Jelaskan faktor peranan dalam
masyarakat yang dapat mempengaruhi menyimak ?
9. Jelaskan kebiasaan jelek dalam
menyimak ?
10. Jelaskan
mengapa Orang Tidak Menyimak ?
11. Jelaskan
perilaku kejelekan menyimak ?
12. Jelaskan
kesalahpahaman dalam menyimak ?
13. Jelaskan
aneka kesalahan menyimak?
C. Tujuan penulis
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Keterampilan menyimak yang diberikan oleh Dosen Pengampu.
D. Manfaat
1. Agar mampu memahami faktor fisik
yang dapat mempengaruhi menyimak
2. Agar dapat memahami faktor
psikologis yang dapat mempengaruhi menyimak
3. Untuk memahami faktor pengalaman
yang dapat mempengaruhi menyimak
4. Dapat memahami faktor sikap yang dapat mempengaruhi menyimak
5. Agar mampu memahami faktor motivasi
yang dapat mempengaruhi menyimak
6. Agar mampu memahami factor jenis
kelamin yang dapat mempengaruhi menyimak
7. Agar mampu memahami factor
lingkungan yang dapat mempengaruhi menyimak
8. Agar mampu memahami factor peranan
dalam masyarakat yang dapat mempengaruhi menyimak
9. Agar mampu memahami kebiasaan jelek
dalam menyimak
10. Agar
mampu memahami mengapa Orang Tidak Menyimak
11. Agar
mampu memahami perilaku kejelekan menyimak
12. Agar
mampu memahami kesalahpahaman dalam menyimak
13. Agar
mampu memahami aneka kesalahan menyimak
BAB II
PEMBAHASAN
FAKTOR PEMENGARUH MENYIMAK
A. Pengantar
Para pakar mengatakan bahwa ada faktor-faktor yang
mempengaruhi menyimak, yaitu:
1. Fisik
2. Psikologis
3. Pengalaman
4. Sikap
5. Motivasi
6. Jenis kelamin
7. Lingkungan
8. Peranan dalam masyarakat
B. Faktor Fisik
Kondisi fisik seorang penyimak
merupakan factor penting yang turut mentukan keefektifan serta kualitas
keaktifan dalam menyimak. Lingkungan fisik juga mungkin sekali turut
bertanggung jawab atas ketidak efektifan menyimak seseorang. Ruangan mungkin
sekali terlalu panas, lembap, ataupun terlalu dingin, suara atau bunyi bising
yang mengganggu dari jalan, dari kamar sebelah, atau dari beberapa bagian
ruangan tempat penyimak berada, para hadirin yang bergerak atau berjalan kian
kemari seenaknya saja sehinga mengganggu orang yang sedang menyimak.
Factor-faktor fisik yang dapat mengganggu dan menghambat kelancaran proses
menyimak harus lah disingkirkan karena kita percaya bahwa fisik yang prima
merupakan modal penyimak.
C. Faktor Psikologis
Faktor-faktor psikologis dalam menyimak yang sulit diatasi:
1. Prasangka dan kurangnya simpati
2. Keegosentrisan
3. Kepicikan
4. Kebosanan dan kejenuhan
5. Sikap yang tidak layak.
Faktor psikologis yang positif
memberikan pengaruh yang baik sedangkan faktor psikologis yang negatif
memberikan pengaruh yang buruk terhadap kegiatan menyimak.
D. Faktor Pengalaman
Agaknya tidak perlu disangsikan lagi
bahwa sikap-sikap kita merupakan hasil pertumbuhan, perembangan serta
pengalaman kita sendiri. Kurangnya atau tidaknya minat pun agaknya merupakan
akibat dari pengalaman yang kurang atau tidak ada sama sekali pengalaman dalam
bidang yang akan disimak.
E. Faktor Sikap
Setiap orang akan cenderung menyimak
secara seksama pada topik-topik atau pokok-pokok pembicaraan yang dapat dia
setujui ketimbang pada pokok-pokok yang kurang atau tidak disetujuinya.
Memahami sikap menyimak merupakan
salah satu modal penting bagi pembicara untuk menarik minat atau perhatian para
penyimak.
F. Faktor Motivasi
Motivasi merupakan salah satu
penentu keberhasilan seseorang. Kalau seseorang memiliki motivasi kuat untuk
mengerjakan sesuatu, orang itu diharapkan akan berhasil mencapai tujuan.
Begitu pula halnya dengan menyimak.
Kebanyakan kegiatan menyimak melibatkan system penilaian kita sendiri. Kalau
kita dapatkan sesuatu yang berharga dari
pembicaraan itu, kita pun akan bersemangat menyimaknya dengan tekun dan saksama
dalam kehidupan ini diperlukan dorongan dan tekad dalam mengerjakan segala
sesuatu dalam kehidupan ini.
G. Aktor Jenis Kelamin
Dari beberapa penelitian, beberapa
pakar menarik kesimpulan bahwa pria dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian
yang berbeda, dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda.
H. Faktor Lingkungan
1. Lingkungan fisik
Sarana dan prasarana dalam proses simak-menyimak harus
ditata sedemikian rupa sehingga para menyimak dan pembicara mampu menyimak
dengan baik. Lingkungan fisik juga mempengaruhi serta menunjang kegiatan
menyimak yang baik.
2. Lingkungan social
Suasana yang mampu mendorong untuk berekspresi dan
mengevaluasi ide-ide memang penting diterapkan kalau keterampilan berkomunikasi
dan seni berbahasa dikembangkan dan berkembang serta hasil yang mereka kerjakan
dihargai oleh orang lain maupun masyarakat.
I. Faktor Peranan Dalam Masyarakat
Kemauan menyimak dapat juga
dipengaruhi oleh peranan kita dalam masyarakat. Misalnya para pejabat tentu
saja ingin menyimak dari berbagai media cetak dan televisi mengenai berbagai
hal, masalah-masalah, dan materi-materi baru yang berkaitan dengan tugas dan jabatan
mereka sebagai abdi masyarakat jadi banyak disimak semakin banyak pula
pengetahuan yang diserap.
J. Kebiasaan jelek dalam menyimak
Dr. Nichols menyimpulkan ada sepuluh
kebiasaan jelek yang menentang atau berlawanan dengan menyimak, antara lain:
1. Menyimak lompat tiga
(Hop-skip-and-jump listening)
Kata-kata orang berbicaradengankecepatankira-kira 125 kata
per menit. Ada untungnya bila berpikir pun diukur pula dalam kata-kata per
detik, sebab dengan demikian ternyata kebanyakan dari kita berpikir dengan
kecepatan empat kali berbicara tadi.
2. Menyimak “daku dapat fakta” (I get
the facts” listening)
Andai kata anda seorang penyimak
yang baik, maka tentu anda menyimak ide-ide penting saja. Sebaiknya fakta-fakta
yang disodorkan, diucapkan kepada anda, pertimbangkanlah hubungan satu dengan
yang lain. Maka segera anda akan melihat dan memahami bahwa orang berbicara itu
telah menghubungkan beberapa fakta untuk membentuk suatu ide pusat.
a) Noda-noda ketulian emosional
(Emosional deaf spots)
Bagi kebanyakan kita, terdapat kata-kata dan frase-frase
yang mengganggu atau membingungkan kita secara emosional. Kata-kata dan
frase-frase tersebut mengganggu pendengaran atau penyimakan kita.
b) Menyimak supersnsitif
Seandainya anda telah mengembangkan pendapat-pendapat atau
prasangka-prasangka yang mendalam maka seorang yang berbicara kepada anda
mungkin sekali tanpa disadari secara lisan menghina anda. Anda mencoba
menginterupsi dia, anda merencanakan suatu pertanyaan yang memalukannya, atau
anda mempertimbangkan suatu tangkisan atau bantahan yang menusuk hatinya.
c) Menghindari penjelasan-penjelasan
yang sulit
Anda akan mendapatkan diri sendiri tidak dapat luput dari
menyimak suatu yang sulit, maka usaha untuk menghindari hal itu seolah-olah
tidak akan ada gunanya dan anda tidak akan dapat menyimak secara efektif.
Pemecahannya: simaklah baik-baik diskusi-diskusimengenaisubyek-subyek yang
menuntunupayauntukmamahami, mengerti, seperti dalam komentar-komentar radio
atau diskusi-diskusi panel.
d) Penolakan secara gegabah terhadap suatu subyek sebagai yang
tidak menarik perhatian.
Untuk memperbaiki kebiasaan menyimak yang jelek, disarankan
kepada kita untuk mengadakan suatu pendekatan egois, mengingat kepentingan diri
sendiri. Memang mungkin saja subyek tersebut tidak menarik perhatian, tetapi
jangan dilupakan bahwa orang yang paling membosankan sekalipun biasanya
memiliki beberapa ide yang baik yang hendak disajikannya.
Mengkritik cara berpidato dan penampilan fisik sesesorang
pembicara
Andaikan seseorang berhenti menceritakan kepadakita suatu
yang akan menguntungkan kita. Kalau sepatunya jorok, seseorang yang bersepatu
jorok, lusuh, tidak berkilat, dan berbicara pun telor pula, maka dia tidak akan
dapat berbicara banyak. Orang tersebut mungkin saja member kita kunci atau
jalan menuju keberhasilan hidup, tetapi sayangnya kita tidak mendengarkan,
tidak menyimaknya.
e) Perhatian pura-pura
Kita akan jarang sekali mengelabui orang yang berbicara,
karena menyimak menuntut suatu pengeluaran tenaga yang diakui paling sedikit
secara tidak sadar olehnya. Kita menipu diri sendiri keluar dari suatu
kesempatan untuk belajar dari apa yang telah dikatakan. Oleh karena itu kita
lebih baik berhenti dari kepura-puraan itu dan benar-bena rmenyimak yang
dibicarakan oleh pembicara.
f) Menyerah kepada gangguan
Kita hidup dalam abad yang riuh-rendah gangguan kebisingan
peradaban mengelilingi kita. Kita terganggu bukan saja oleh apa-apa yang kita
dengar, tetapi oleh apa-apa yang kita lihat. Penyimak yang baik akan berjuang
menantang gangguan-gangguan ini.
g) Menyimak dengan pensil dan kertas di
tangan
Beberapa orang beranggapan bahwa cara belajar dari menyimak
adalah dengan jalan membuat banyak catatan. Mereka jadinya terlibat dalam
kegiatan fisik menulis. Kerap kali mereka mencoba membuat kerangka apa-apa yang
telah diutarakan pembicara dan menjadi rangkuman yang berupa simbol-simbol dan angka-angka.
Mereka lupa bahwa sementara itu mereka hanya setengah menyimak.
K. Mengapa Orang Tidak Menyimak ?
Orang tua sering menasihati anaknya,
“Dengarkanlah dulu baik-baik sebelum kamu kerjakan!” peribahasa pun ada pula
yang berbunyi: “listening may be golden” yang
bermakna “menyimak itu mungkin (bernilai) emas”. Artinya, dari menyimak itu
mungkin sekali, kita memperoleh hal-hal yang bernilai tinggi, berharga dan
berguna.
Dalam masyarakat terdapat hubungan
timbale balik antar sesama anggotanya: memberi dan menerima, mendengan dan
didengarkan, serta menyimak dan disimak. Beberapa contoh:
1.
Para pedagang dan pelayan toko harus
menyimak keinginan para pembeli dan para pelanggan agar dagangan mereka laris
2.
pada rumah tangga, penyimak yang
baik dan simpati jelas dapat menolong seorang suami untuk lebih memahami
istri(atau sebaliknya)
3.
disekolah para siswa harus menjadi
penyimak yang baik; mereka harus menyimak pelajaran yang diberikan oleh guru
dengan baik dan cermat agar dapat memahaminya.
4.
sebaiknya gurupun perlu menyimak
keluhan-keluhan serta masalah-masalah yang di kemukakan oleh para siswa agar
dapat di atasi dengan baik.
Demikianlah dapan disimpulkan bahwa
dalam kehidupan, menyimak itu sangat perlu dan sangat menguntungkan kalau
benar-benar selektif.
Beberapa
sebab yang dapat membuat orang tidak menyimak, antara lain:
1.
Orang dalam keadaan cape, orang yang cape biasanya malas menyimak. Kalaupun di
paksakan juga, dia hanya menyimak setengah-setengah saja.
2.
Orang dalam keadaan tergesa-gesa. Orang yang berada dalam keadaan
tergesa-gesa pun tidak akan dapat menyimak dengan baik. Ketergesa-gesaan,
secara eksplisit, menyatakan ketidak tenangan. Orang yang tidak tenang tidak
akan dapat mengerjakan sesuatu dengan baik, begitu pula halnya dengan kegiatan
menyimak. Ketenangan merupakan modal utama dalam melakukan sesuatu.
3.
Orang berada dalam keadaan bingung, pikiran sedang kacau. Pada saat pikiran sedang bingung,
sulit lah kita dapat menyimak dengan baik.
4.
Orang dapat dibingungkan oleh factor-faktor lain, seperti:
a. Ucapan-ucapan yang munafik : lain di
bibir lain di hati, lain ucapan lain tindakan.
b. Penyimak terlalu dijejali dengan
pesan yang bernada pemerintah, berbau slogan-slogan politik.
c. Banyaknya perintah yang birokratis.
d. Kecenderungan menjauhkan diri dari
prasangka-prasangka; kelakuan atau keenggangam mempelajari sesuatu yang baru.
Semua keadaan diatas turut membuat orang tidak bergairah
untuk menyimak, lalu orang itu menutup telinganya saja.
Anak-anak yang mempunyai masalah pendengaran atau problem
oditori dapat kita jenjangkan dari sistem pendengarannya tidak beres sampai
pada yang introvert (yaitu orang-orang yang pendengarannya mungkin sempurna,
tetapi yang terlalu banyak menyimak pada diri sendiri sehingga tidak mempunyai
waktu atau keinginan menyimak orang lain). Yang termasuk kedalam golongan ini
antara lain :
a) Tipe penyerap; tipe bunga karang. Orang yang
termasuk ke dalam tipe ini memang tampaknya menyerap kata-kata dari pembicara,
tetapi sayang tidak mencernakanya lebih lanjut, tidak menyelami dan memahami
maknanya.
b) Tipe otrang berdikari. Orang yang termasuk tipe ini
menolak untuk menyimak karena dia tahu pasti bahwa dia lebih tahu dari orang yang
berbicara itu.
Tipe
seniman ingatan.
Orang yang termasuk tipe ini merupakan perluasan dari tipe orang berdikari. Dia
secara sadar menolak untuk menyimak; dia “mengingat” data-data yang dikutip
selama percakapan beberapa waktu yang lalu
c) Tipe orang tidak tergoda oleh
pribadi tertentu.
Orang yang termasuk tipe ini selalu menghindarkan diri dari kontak pribadi
secara langsung.
d) Tipe orang yang menyukai bunyi
alamiah. Bagi
orang yang termasuk tipe ini, music dan kicau burung serta keriuhan kota
merupakan bunyi yang indah bagi perangkat penerima sensitifnya.
e) Tipe estetikus luar biasa. Orang yang termasuk tipe ini,
menyimak musik bukan mendatangkan kesenangan atau kenikmatan; sebagai gantinya,
dia khusus mendengarkan biola, tambur bas atau pikolo (sejenis suling) saja.
f) Tipe
siap tempur.
Tipe ini merupakan tipe yang paling luas tersebar. Dia begitu sibuk memikirkan
jawaban-jawaban yang akan diajukan kalau ada orang bertanya. Siap tempur kalau
ada lawan atau musuh.
Demikianlah telah kita kemukakan
beberapa sebab yang turut mengakibatkan orang tidak menyimak. Hal-hal itu jelas
merugikan. Dari kegiatan menyimak, kita mungkin memperoleh keuntungan, sebagai
berikut.
a. Kita dapat mempelajari sesuatu.
b. Kita mungkin memperoleh suatu
kesempatan melalui kegiatan menyimak tersebut.
c. Hal itu dapat membuat kita menjadi
suatu pribadi yang lebih baik dan berpandangan lebih luas.
3. Hendaklah kita jangan lupa bahwa
martabat manusia mengandung suatu nilai dan makna. Oleh karena itu, tentu saja
kemartabatan itu menuntut kita untuk lebih banyak menyimak pandangan, gagasan,
ide, serta konsep orang lain, apalagi orang terkemuka dan arif bijaksana. Kita
akan rugi kalau tidak memperoleh dan memanfaatkan harta yang berharga itu.
L. Perilaku Jelek Dalam Menyimak
Perilaku jelek dalam menyimak pasti
akan member pengaruh atas berhasil atau tidaknya seseorang dalam kegiatan
menyimak.
Secara garis besar, perilaku-perilaku yang termasuk jelek
atau tidak baik dalam menyimak sebagai berikut:
1.
Tidak mau menerima keanehan pembicara. Setiap orang mempunyai
keanehan-keanehan sendiri, pikiran berbeda-beda.\
2.
Tidak mau memperbaiki sikap. Penyimak berpura-pura sibuk
mencatat dengan pulpen menari-menari da atas kertas, padahal dia menulis surat
kepada seseorang.
3.
Tidak mau memperbaiki lingkungan. Adakalanya seseorang memilih duduk
di dekat pintu , dan tidak mau mencari tempat yang lebih baik.
4.
Tidak dapat menahan diri. Penyimak jenis ini terus saja ingin bertanya dan memberi
tanggapan kepada pembicara, padahal pembicara belum selesai.
5.
Tidak mau meningkatkan membuat catatan. Ada orang yang beranggapan bahwa
semakin banyak catatan semakin tinggi nilainya, penyimak tidak tahu bahwa
catatan itu harus singkat dan padat.
6.
Tidak tahu dan tidak mau menyaring tujuan khusus. Ada orang yang tidak menyadari
apa tujuan menyimak suatu pembicaraan secara umum, apalagi tujuan khusus.
7.
Tidak memanfaatkan waktu secara tepat guna. Di tengah-tengah kesibukan ada
orang yang sedang melamun dan mengantuk. Sungguh perilaku yang memalukan.
8.
Tidak dapat menyimak secara rasional. Ada penyimak yang menuruti
perasaannya saja, dia menyimak secara emosilonal.
9.
Tidak mau berlatih menyimak hal-hal yang sulit. Tidak mau melatih diri untuk
menyimak hal-hal yang sulit dan rumit berarti dia tidak mau memahami
keseluruhan isi pembicaraan yang dikemukakan oleh pembicara
.
M. Kesalahpahaman
Di antara kesalahpahaman yang
berkaitan dengan perilaku menyimak sebagai berikut:
1. Anggapan
bahwa semua perilaku menyimak itu sama saja. Pendapat seperti ini jelas tidak benar. Situasi dan kondisi
memegang peranan penting dalam pengubahan perilaku menyimak seseorang.
2. Anggapan
bahwa “mendengar” dan “menyimak” sama saja. Orang yang beranggapan seperti itu jelas tidak memahami
makna kedua kata tersebut.
Mendengar (hearing) adalah proses psikologis ketika
gelombang-gelombang bunyi ditrasformasikan menjadi implus-implus atau gerakan
hati saraf pendengaran.
Menyimak (listening) adalah suatu proses psikologis yang
rumit yang merupakan sarana untuk merasakan butir-butir atau bagian lambang dan
tanda yang telah disandikan oleh sistem saraf pusat dan sistem saraf otomatis
yang diubah menjadi pesan-pesan yang dapat dipahami (Ehninger [et all], 1978:22
-3).
Singkatnya:
mendengar adalah proses jasmaniah, sedangkan menyimak adalah proses rohaniah.
3.
Anggapan bahwa menyimak tidak dapat dikembangkan atau
ditingkatkan.
Sejumlah program komersial yang terdapt di wilayah pengembangan menyimak
menyatakan bahwa para penggembleng usaha atau bisnis itu merasakan sebaliknya.
Memang terdapat perbedaan pendapat atau ketidakcocokan antar para peneliti
mengenai ketepatangunaan atau keefektifan teknik-teknik latihan pilihan seperti
itu, tetapi modifikasi atau pengawasan terhadap perilaku menyimak yang jelek
itu mungkin dilakukan.
4.
Anggapan bahwa hanya sedikit waktu yang diperlukan dalam menyimak. Telaah-talaah yang telah
dilaksanakan bagi para pekerja, para mahasiswa perguruan tinggi, ibu-ibu rumah
tangga, dan lainnya, menyatakan bawa kira-kira 45% sampai 50% waktu
berkomunikasi justru dipergunakan dalam perilaku atau kegiatan menyimak. Dengan
perkataan lain, hampir setengah waktu berkomunikasi diperuntukan menyimak. Jadi
tidak benar bahwa untuk menyimak hanya diperlukan waktu sedikit saja (Mc Cabe
& Bender, 1981:91).
N. Aneka Permasalahan Menyimak
Salah satu cara untuk meningkatkan
suatu kegiatan menyimak itu ialah menilai perilaku kita sendiri ketika menyimak
supaya dapat menetukan apakah kita menggunakan kebiasaan yang mungkin
mengganggu kegiatan menyimak sehingga tidak tepat guna lagi. Segala masalah
yang berkaitan dengan kegiatan menyimak harus kita pecahkan dan kita selesaikan
sendiri. Diantara sekian banyak masalah yang harus kita selesaikan itu, adalah
sebagai berikut ini.
Masalah
pertama: Memprasangkai pembicara
Terkadang, secara sadar atau tidak sadar, kita lebih
memusatkan perhatian pada gaya dan cara penampilan pembicara ketimbang pada
pesan yang hendak disampikan. Walaupun tujuan khusus menyimak mungkin dipusatkan pada penampilan-hal
ini merupakan suatu tujuan tertentu.
Masalah
kedua: Berpura-pura menaru perhatian
Terkadang ada orang-orang yang berpura-pura menyimak dengan
serius, dengan cara menatap pembicara dengan kedua mata tanpa kedipan, diikuti
pula dengan anggukan, tetapi sebenarnya perhatian bukan tertuju pada pembicara,
pikirannya terbang melayang melayang mengembara ke tempat lain.
Masalah
ketiga: Kebingungan
Orang yang duduk di sebelah kita selalu batuk-batuk dan
garuk-garuk kepala. Suara di luar dan di dalam dapat mengganggu kita, semua itu
dapat membuat kita bingung. Kita dengan mudah dapat dijauhkan dari ide-ide
pembicara oleh berbagai gangguan, ini benar-benar merupakan masalah dalam
kegiatan menyimak.
Masalah keempat: Pertimbangan
premature
Sebagai pengganti menahan
pertimbangan atau keputusan sampai pembicara selesai berbicara, banyak diantara
kita menolak suatu topik sebagai sesuatu yang tidak menarik, yang terlalu
sukar, atau yang tidak bernilai. Ini semua menghalangi kita untuk menyimak
dengan serius, dan masalah ini harus diselesaikan sedini mungkin kalau kita
ingin menjadi penyimak yang baik.
Masalah
kelima: Salah membuat catatan
Mencoba menulis terlalu banyak
ataupun mencoba menyesuaikan ide-ide pembicara dengan suatu pola yang sudah
dirancang sebelumnya dapat mengurangi kefesienan menyimak. Masalah ini harus
segera diatasi. Buatlah catatan yang singkat, tepat, dan berguna.
Masalah
keenam: Hanya menyimak fakta-fakta
Berbagai telaah menunjukan bahwa
menyimak demi fakta, bukan demi idea tau gagasan, pasti mengurangi
ketepatgunaan atau keefesienan kegiatan menyimak. Harus diingat dan disadari
bahwa ide-ide atau gagasan-gagasan akan membantu para penyimak untuk lebih
memanfaatkan fakta-fakta sebagai sarana penunjang.
Masalah
ketujuh: Melamun
Banyak orang kurang tahu bahwa otak
manusia sanggup memproses informasi lebih cepat daripada kecepatan berbicara
yang dilakukan oleh banyak pembicara. Sebagai konsekuensi dari kenyataan ini,
masih ada waktu untuk “memikirkan” hal-hal di luar topik yang disajikan oleh
pembicara atau penceramah.
Masalah
kedelapan: Bereaksi secara emosional
Kata-kata, gaya, cara penampilan
pembicara dapat saja mengundang emosi, sehingga kita tidak lagi menyimak secara
rasional. Kegagalan menguasai emosi akan mengurangi mutu menyimak. Berlatih
menyimak secara rasional dapat mengurangi emosi yang berlebihan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kondisi fisik seorang penyimak
merupakan factor penting yang turut mentukan keefektifan serta kualitas
keaktifan dalam menyimak. Factor psikologis yang positif memberikan pengaruh
yang baik sedangkan factor psikologis yang negative memberikan pengaruh yang
buruk terhadap kegiatan menyimak. Agaknya tidak perlu disangsikan lagi bahwa
sikap-sikap kita merupakan hasil pertumbuhan, perembangan serta pengalaman kita
sendiri. Memahami sikap menyimak merupakan salah satu modal penting bagi
pembicara untuk menarik minat atau perhatian para penyimak. Motivasi merupakan
salah satu penentu keberhasilan seseorang. Kalau seseorang memiliki motivasi
kuat untuk mengerjakan sesuatu, orang itu diharapkan akan berhasil mencapai
tujuan. Dari beberapa penelitian, beberapa pakar menarik kesimpulan bahwa pria
dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian yang berbeda, dan cara mereka
memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda. Kemauan menyimak dapat juga
dipengaruhi oleh peranan kita dalam masyarakat. Perilaku jelek dalam menyimak
pasti akan memberi pengaruh atas berhasil atau tidaknya seseorang dalam
kegiatan menyimak. Salah satu cara untuk meningkatkan suatu kegiatan menyimak
itu ialah menilai perilaku kita sendiri ketika menyimak supaya dapat menetukan
apakah kita menggunakan kebiasaan yang mungkin mengganggu kegiatan menyimak
sehingga tidak tepat guna lagi. Segala masalah yang berkaitan dengan kegiatan
menyimak harus kita pecahkan dan kita selesaikan sendiri.
B.
Saran
Setelah membaca makalah ini,
diharapkan pembaca atau menyimak dan menambah motivasi dalam hal menyimak
dengan baik, dan diharapkan pula mampu menambah wawasan guna untuk membangun
bangsa yang berintelektual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar