Selasa, 24 November 2015

MAKALAH FAKTOR FAKTOR MENYIMAK


MENYIMAK

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Menyimak memiliki makna mendengarkan atau memperhatikan baik-baik apa yang dikatakan oleh oarang lain. Jelas faktor kesengajaan dalam menyimak sangat besar, lebih besar daripada mendengarkan karena dalam kegiatan menyimak ada usaha untuk memahami apa yang disimaknya sedangkan dalam kegiatan mendengarkan tingkatan pemahaman belum dilakukan. (Sutari dkk 1997 : 17).
Menurut Anderson (dalam Sutari dkk. 1997  : 19) dalam ketrampilan menyimak, kemampuan menangkap dan memahami makna  pesan baik yang tersurat maupun yang tersirat yang terkandung dalam bunyi, unsur kemampuan mengingat pesan, juga merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengertian menyimak.
Maka dengan demikian menyimak dapat dibatasi sebagai proses besar mendengarkan, menyimak, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan.  Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interperensi untuk memperoleh informasi, menangkap isi  atau pesan, serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang  pembicara  melalui ujaran atau bahasa lisan (Tarigan 1994 : 28).
Menurut Sabarti Akhadi-at (dalam Sutari dkk. 1997 : 19) menyimak ialah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, mengintepretasikan dan mereaksi  atas makna yang terkandung.
Berdasarkan para ahli dapat disimpulkan bahwa menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarakan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi dan interpretasi  untuk memperoleh pesan, informasi, serta memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh pembicara melaui ujaran atau bahasa lisan.
Tujuan Menyimak :
Logan dan kawan-kawan mengklasifikasikan menyimak atas dasar tujuan khusus/spesifik (Sutari dkk 1994 : 32). Menurut mereka ada tujuh ragam menyimak yang perlu dikembangkan melaui pengajaran bahasa bagi siswa di sekolah. Ragam dan penjelasan setiap tujuan menyimak tersebut adalah sebagai berikut ini.
1.      Menyimak untuk belajar; melaui kegiatan menyimak seseorang mempelajari beberapa hal yang dibutuhkan. Misalnya para siswa  menyimak guru bahasa, sejarah, dan sebagainya, menyimak siaran radio, televisi, diskusi, dan sebagainya.
2.       Menyimak untuk menghibur; penyimak menyimak sesuatu untuk menghibur dirinya, misalnya menyimak pembicaraan cerita lucu, dagelan,  pertunjukan sandiwara, film dan sebagainya.
3.       Menyimak untuk menilai; penyimak mendengarkan dan memahami simakan, kemudian menelaah, mengkaji, menguji, membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan menyimak.
4.      Menyimak apresiatif; penyimak memahami, menghayati, mengapresiasi materi simakan. Misalnya menyimak pembacaan puisi, cerita pendek, roman, menyimak pertunjukan sandiwara.
5.      Menyimak untuk mengomunikasikan ide dan perasaan penyimak memahami, merasakan gagasan, ide, perasaan pembicara sehingga sambung rasa antara pembicara dengan pendengar.
6.      Menyimak deskriminatif; menyimak untuk membedakan suara dan bunyi. Dalam belajar bahasa inggris, misalnya siswa harus bisa membedakan bunyi [i] dan [ã].
7.       Menyimak pemecah masalah; penyimak mengikuti uraian pemecah masalah secara kreatif dan analitis yang disampaikan oleh pembicara. Mungkin juga penyimak dapat memecahkan masalah yang dihadapinya  secara kreatif dan analitis yang setelah bersangkutan mendapat informasi dari menyimak sesuatu tersebut.

Tujuan orang untuk menyimak itu beraneka ragam. Dalam hal ini kegiatan menyimak mempunyai delapan tujuan menyimak diantaranya yaitu: (1) menyimak untuk belajar; (2) menyimak untuk menikmati; (3) menyimak untuk mengevaluasi; (4) menyimak untuk mengapresiasi; (5)  menyimak untuk mengomunikasi; (6) menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi; (7) menyimak untuk memecahkan masalah; (8) menyimak untuk meyakinkan (Tarigan 1994:57).
Dari dua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penelitian keterampilan menyimak pada pembelajaran menyimak ini mempunyai tujuan untuk mengapresiasi dongeng yang disimak. Dengan tujuan tersebut siswa dapat memahami unsur-unsur yang terkandung dalam dongeng.

B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas penulis mengangkat masalah :
1.      Jelaskan faktor fisik yang dapat mempengaruhi menyimak?
2.      Jelaskan faktor psikologis yang dapat mempengaruhi menyimak ?
3.      Jelaskan faktor pengalaman yang dapat mempengaruhi menyimak ?
4.      Jelaskan faktor  sikap yang dapat mempengaruhi menyimak ?
5.      Jelaskan faktor motivasi yang dapat mempengaruhi menyimak ?
6.      Jelaskan faktor jenis kelamin yang dapat mempengaruhi menyimak ?
7.      Jelaskan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi menyimak ?
8.      Jelaskan faktor peranan dalam masyarakat yang dapat mempengaruhi menyimak ?
9.      Jelaskan kebiasaan jelek dalam menyimak ?
10.  Jelaskan mengapa Orang Tidak Menyimak  ?
11.  Jelaskan perilaku kejelekan menyimak ?
12.  Jelaskan kesalahpahaman dalam menyimak ?
13.  Jelaskan aneka kesalahan menyimak?



C.     Tujuan penulis
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan menyimak yang diberikan oleh Dosen Pengampu.

D.    Manfaat
1.      Agar mampu memahami faktor fisik yang dapat mempengaruhi menyimak
2.      Agar dapat memahami faktor psikologis yang dapat mempengaruhi menyimak
3.      Untuk memahami faktor pengalaman yang dapat mempengaruhi menyimak
4.      Dapat memahami faktor  sikap yang dapat mempengaruhi menyimak
5.      Agar mampu memahami faktor motivasi yang dapat mempengaruhi menyimak
6.      Agar mampu memahami factor jenis kelamin yang dapat mempengaruhi menyimak
7.      Agar mampu memahami factor lingkungan yang dapat mempengaruhi menyimak
8.      Agar mampu memahami factor peranan dalam masyarakat yang dapat mempengaruhi menyimak
9.      Agar mampu memahami kebiasaan jelek dalam menyimak
10.  Agar mampu memahami mengapa Orang Tidak Menyimak 
11.  Agar mampu memahami perilaku kejelekan menyimak
12.  Agar mampu memahami kesalahpahaman dalam menyimak
13.  Agar mampu memahami aneka kesalahan menyimak






BAB II
PEMBAHASAN
FAKTOR PEMENGARUH MENYIMAK
                                               
A.    Pengantar
Para pakar mengatakan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak, yaitu:
1.      Fisik
2.      Psikologis
3.      Pengalaman
4.      Sikap
5.      Motivasi
6.      Jenis kelamin
7.      Lingkungan
8.      Peranan dalam masyarakat

B.     Faktor Fisik
Kondisi fisik seorang penyimak merupakan factor penting yang turut mentukan keefektifan serta kualitas keaktifan dalam menyimak. Lingkungan fisik juga mungkin sekali turut bertanggung jawab atas ketidak efektifan menyimak seseorang. Ruangan mungkin sekali terlalu panas, lembap, ataupun terlalu dingin, suara atau bunyi bising yang mengganggu dari jalan, dari kamar sebelah, atau dari beberapa bagian ruangan tempat penyimak berada, para hadirin yang bergerak atau berjalan kian kemari seenaknya saja sehinga mengganggu orang yang sedang menyimak. Factor-faktor fisik yang dapat mengganggu dan menghambat kelancaran proses menyimak harus lah disingkirkan karena kita percaya bahwa fisik yang prima merupakan modal penyimak.



C.     Faktor Psikologis
Faktor-faktor psikologis dalam menyimak yang sulit diatasi:
1.      Prasangka dan kurangnya simpati
2.      Keegosentrisan
3.      Kepicikan
4.      Kebosanan dan kejenuhan
5.      Sikap yang tidak layak.
Faktor psikologis yang positif memberikan pengaruh yang baik sedangkan faktor psikologis yang negatif memberikan pengaruh yang buruk terhadap kegiatan menyimak.

D.    Faktor Pengalaman
Agaknya tidak perlu disangsikan lagi bahwa sikap-sikap kita merupakan hasil pertumbuhan, perembangan serta pengalaman kita sendiri. Kurangnya atau tidaknya minat pun agaknya merupakan akibat dari pengalaman yang kurang atau tidak ada sama sekali pengalaman dalam bidang yang akan disimak.

E.     Faktor Sikap
Setiap orang akan cenderung menyimak secara seksama pada topik-topik atau pokok-pokok pembicaraan yang dapat dia setujui ketimbang pada pokok-pokok yang kurang atau tidak disetujuinya.
Memahami sikap menyimak merupakan salah satu modal penting bagi pembicara untuk menarik minat atau perhatian para penyimak.

F.      Faktor Motivasi
Motivasi merupakan salah satu penentu keberhasilan seseorang. Kalau seseorang memiliki motivasi kuat untuk mengerjakan sesuatu, orang itu diharapkan akan berhasil mencapai tujuan. Begitu  pula halnya dengan menyimak. Kebanyakan kegiatan menyimak melibatkan system penilaian kita sendiri. Kalau kita dapatkan sesuatu yang berharga  dari pembicaraan itu, kita pun akan bersemangat menyimaknya dengan tekun dan saksama dalam kehidupan ini diperlukan dorongan dan tekad dalam mengerjakan segala sesuatu dalam kehidupan ini.

G.    Aktor Jenis Kelamin
Dari beberapa penelitian, beberapa pakar menarik kesimpulan bahwa pria dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian yang berbeda, dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda.

H.    Faktor Lingkungan
1.      Lingkungan fisik
Sarana dan prasarana dalam proses simak-menyimak harus ditata sedemikian rupa sehingga para menyimak dan pembicara mampu menyimak dengan baik. Lingkungan fisik juga mempengaruhi serta menunjang kegiatan menyimak yang baik.
2.      Lingkungan social
Suasana yang mampu mendorong untuk berekspresi dan mengevaluasi ide-ide memang penting diterapkan kalau keterampilan berkomunikasi dan seni berbahasa dikembangkan dan berkembang serta hasil yang mereka kerjakan dihargai oleh orang lain maupun masyarakat.

I.       Faktor Peranan Dalam Masyarakat
Kemauan menyimak dapat juga dipengaruhi oleh peranan kita dalam masyarakat. Misalnya para pejabat tentu saja ingin menyimak dari berbagai media cetak dan televisi mengenai berbagai hal, masalah-masalah, dan materi-materi baru yang berkaitan dengan tugas dan jabatan mereka sebagai abdi masyarakat jadi banyak disimak semakin banyak pula pengetahuan yang diserap.



J.       Kebiasaan jelek dalam menyimak
Dr. Nichols menyimpulkan ada sepuluh kebiasaan jelek yang menentang atau berlawanan dengan menyimak, antara lain:
1.      Menyimak lompat tiga (Hop-skip-and-jump listening)
Kata-kata orang berbicaradengankecepatankira-kira 125 kata per menit. Ada untungnya bila berpikir pun diukur pula dalam kata-kata per detik, sebab dengan demikian ternyata kebanyakan dari kita berpikir dengan kecepatan empat kali berbicara tadi.

2.      Menyimak “daku dapat fakta” (I get the facts” listening)
Andai kata anda seorang penyimak yang baik, maka tentu anda menyimak ide-ide penting saja. Sebaiknya fakta-fakta yang disodorkan, diucapkan kepada anda, pertimbangkanlah hubungan satu dengan yang lain. Maka segera anda akan melihat dan memahami bahwa orang berbicara itu telah menghubungkan beberapa fakta untuk membentuk suatu ide pusat.
a)      Noda-noda ketulian emosional (Emosional deaf spots)
Bagi kebanyakan kita, terdapat kata-kata dan frase-frase yang mengganggu atau membingungkan kita secara emosional. Kata-kata dan frase-frase tersebut mengganggu pendengaran atau penyimakan kita.
b)      Menyimak supersnsitif
Seandainya anda telah mengembangkan pendapat-pendapat atau prasangka-prasangka yang mendalam maka seorang yang berbicara kepada anda mungkin sekali tanpa disadari secara lisan menghina anda. Anda mencoba menginterupsi dia, anda merencanakan suatu pertanyaan yang memalukannya, atau anda mempertimbangkan suatu tangkisan atau bantahan yang menusuk hatinya.
c)      Menghindari penjelasan-penjelasan yang sulit
Anda akan mendapatkan diri sendiri tidak dapat luput dari menyimak suatu yang sulit, maka usaha untuk menghindari hal itu seolah-olah tidak akan ada gunanya dan anda tidak akan dapat menyimak secara efektif. Pemecahannya: simaklah baik-baik diskusi-diskusimengenaisubyek-subyek yang menuntunupayauntukmamahami, mengerti, seperti dalam komentar-komentar radio atau diskusi-diskusi panel.

d)     Penolakan secara gegabah terhadap suatu subyek sebagai yang tidak menarik perhatian.
Untuk memperbaiki kebiasaan menyimak yang jelek, disarankan kepada kita untuk mengadakan suatu pendekatan egois, mengingat kepentingan diri sendiri. Memang mungkin saja subyek tersebut tidak menarik perhatian, tetapi jangan dilupakan bahwa orang yang paling membosankan sekalipun biasanya memiliki beberapa ide yang baik yang hendak disajikannya.
Mengkritik cara berpidato dan penampilan fisik sesesorang pembicara
Andaikan seseorang berhenti menceritakan kepadakita suatu yang akan menguntungkan kita. Kalau sepatunya jorok, seseorang yang bersepatu jorok, lusuh, tidak berkilat, dan berbicara pun telor pula, maka dia tidak akan dapat berbicara banyak. Orang tersebut mungkin saja member kita kunci atau jalan menuju keberhasilan hidup, tetapi sayangnya kita tidak mendengarkan, tidak menyimaknya.

e)      Perhatian pura-pura
Kita akan jarang sekali mengelabui orang yang berbicara, karena menyimak menuntut suatu pengeluaran tenaga yang diakui paling sedikit secara tidak sadar olehnya. Kita menipu diri sendiri keluar dari suatu kesempatan untuk belajar dari apa yang telah dikatakan. Oleh karena itu kita lebih baik berhenti dari kepura-puraan itu dan benar-bena rmenyimak yang dibicarakan oleh pembicara.



f)       Menyerah kepada gangguan
Kita hidup dalam abad yang riuh-rendah gangguan kebisingan peradaban mengelilingi kita. Kita terganggu bukan saja oleh apa-apa yang kita dengar, tetapi oleh apa-apa yang kita lihat. Penyimak yang baik akan berjuang menantang gangguan-gangguan ini.

g)      Menyimak dengan pensil dan kertas di tangan
Beberapa orang beranggapan bahwa cara belajar dari menyimak adalah dengan jalan membuat banyak catatan. Mereka jadinya terlibat dalam kegiatan fisik menulis. Kerap kali mereka mencoba membuat kerangka apa-apa yang telah diutarakan pembicara dan menjadi rangkuman yang berupa simbol-simbol dan angka-angka. Mereka lupa bahwa sementara itu mereka hanya setengah menyimak.

K.    Mengapa Orang Tidak Menyimak ?
Orang tua sering menasihati anaknya, “Dengarkanlah dulu baik-baik sebelum kamu kerjakan!” peribahasa pun ada pula yang berbunyi: “listening may be golden” yang bermakna “menyimak itu mungkin (bernilai) emas”. Artinya, dari menyimak itu mungkin sekali, kita memperoleh hal-hal yang bernilai tinggi, berharga dan berguna.
Dalam masyarakat terdapat hubungan timbale balik antar sesama anggotanya: memberi dan menerima, mendengan dan didengarkan, serta menyimak dan disimak. Beberapa contoh:
1.       Para pedagang dan pelayan toko harus menyimak keinginan para pembeli dan para pelanggan agar dagangan mereka laris
2.       pada rumah tangga, penyimak yang baik dan simpati jelas dapat menolong seorang suami untuk lebih memahami istri(atau sebaliknya)
3.       disekolah para siswa harus menjadi penyimak yang baik; mereka harus menyimak pelajaran yang diberikan oleh guru dengan baik dan cermat agar dapat memahaminya.
4.       sebaiknya gurupun perlu menyimak keluhan-keluhan serta masalah-masalah yang di kemukakan oleh para siswa agar dapat di atasi dengan baik.
Demikianlah dapan disimpulkan bahwa dalam kehidupan, menyimak itu sangat perlu dan sangat menguntungkan kalau benar-benar selektif.

Beberapa sebab yang dapat membuat orang tidak menyimak, antara lain:
1.      Orang dalam keadaan cape, orang yang cape biasanya malas menyimak. Kalaupun di paksakan juga, dia hanya menyimak setengah-setengah saja.
2.      Orang dalam keadaan tergesa-gesa. Orang yang berada dalam keadaan tergesa-gesa pun tidak akan dapat menyimak dengan baik. Ketergesa-gesaan, secara eksplisit, menyatakan ketidak tenangan. Orang yang tidak tenang tidak akan dapat mengerjakan sesuatu dengan baik, begitu pula halnya dengan kegiatan menyimak. Ketenangan merupakan modal utama dalam melakukan sesuatu.
3.      Orang berada dalam keadaan bingung, pikiran sedang kacau. Pada saat pikiran sedang bingung, sulit lah kita dapat menyimak dengan baik.
4.      Orang dapat dibingungkan oleh factor-faktor lain, seperti:
a.       Ucapan-ucapan yang munafik : lain di bibir lain di hati, lain ucapan lain tindakan.
b.      Penyimak terlalu dijejali dengan pesan yang bernada pemerintah, berbau slogan-slogan politik.
c.       Banyaknya perintah yang birokratis.
d.      Kecenderungan menjauhkan diri dari prasangka-prasangka; kelakuan atau keenggangam mempelajari sesuatu yang baru.
Semua keadaan diatas turut membuat orang tidak bergairah untuk menyimak, lalu orang itu menutup telinganya saja.
Anak-anak yang mempunyai masalah pendengaran atau problem oditori dapat kita jenjangkan dari sistem pendengarannya tidak beres sampai pada yang introvert (yaitu orang-orang yang pendengarannya mungkin sempurna, tetapi yang terlalu banyak menyimak pada diri sendiri sehingga tidak mempunyai waktu atau keinginan menyimak orang lain). Yang termasuk kedalam golongan ini antara lain :
a)      Tipe penyerap; tipe bunga karang. Orang yang termasuk ke dalam tipe ini memang tampaknya menyerap kata-kata dari pembicara, tetapi sayang tidak mencernakanya lebih lanjut, tidak menyelami dan memahami maknanya.
b)      Tipe otrang berdikari. Orang yang termasuk tipe ini menolak untuk menyimak karena dia tahu pasti bahwa dia lebih tahu dari orang yang berbicara itu.
Tipe seniman ingatan. Orang yang termasuk tipe ini merupakan perluasan dari tipe orang berdikari. Dia secara sadar menolak untuk menyimak; dia “mengingat” data-data yang dikutip selama percakapan beberapa waktu yang lalu
c)      Tipe orang tidak tergoda oleh pribadi tertentu. Orang yang termasuk tipe ini selalu menghindarkan diri dari kontak pribadi secara langsung.
d)     Tipe orang yang menyukai bunyi alamiah. Bagi orang yang termasuk tipe ini, music dan kicau burung serta keriuhan kota merupakan bunyi yang indah bagi perangkat penerima sensitifnya.
e)      Tipe estetikus luar biasa. Orang yang termasuk tipe ini, menyimak musik bukan mendatangkan kesenangan atau kenikmatan; sebagai gantinya, dia khusus mendengarkan biola, tambur bas atau pikolo (sejenis suling) saja.
f)       Tipe siap tempur. Tipe ini merupakan tipe yang paling luas tersebar. Dia begitu sibuk memikirkan jawaban-jawaban yang akan diajukan kalau ada orang bertanya. Siap tempur kalau ada lawan atau musuh.

Demikianlah telah kita kemukakan beberapa sebab yang turut mengakibatkan orang tidak menyimak. Hal-hal itu jelas merugikan. Dari kegiatan menyimak, kita mungkin memperoleh keuntungan, sebagai berikut.
a.       Kita dapat mempelajari sesuatu.
b.      Kita mungkin memperoleh suatu kesempatan melalui kegiatan menyimak tersebut.
c.       Hal itu dapat membuat kita menjadi suatu pribadi yang lebih baik dan berpandangan lebih luas.
3.      Hendaklah kita jangan lupa bahwa martabat manusia mengandung suatu nilai dan makna. Oleh karena itu, tentu saja kemartabatan itu menuntut kita untuk lebih banyak menyimak pandangan, gagasan, ide, serta konsep orang lain, apalagi orang terkemuka dan arif bijaksana. Kita akan rugi kalau tidak memperoleh dan memanfaatkan harta yang berharga itu.

L.     Perilaku Jelek Dalam Menyimak
Perilaku jelek dalam menyimak pasti akan member pengaruh atas berhasil atau tidaknya seseorang dalam kegiatan menyimak.
Secara garis besar, perilaku-perilaku yang termasuk jelek atau tidak baik dalam menyimak sebagai berikut:
1.      Tidak mau menerima keanehan pembicara. Setiap orang mempunyai keanehan-keanehan sendiri, pikiran berbeda-beda.\
2.      Tidak mau memperbaiki sikap. Penyimak berpura-pura sibuk mencatat dengan pulpen menari-menari da atas kertas, padahal dia menulis surat kepada seseorang.
3.      Tidak mau memperbaiki lingkungan. Adakalanya seseorang memilih duduk di dekat pintu , dan tidak mau mencari tempat yang lebih baik.
4.      Tidak dapat menahan diri. Penyimak jenis ini terus saja ingin bertanya dan memberi tanggapan kepada pembicara, padahal pembicara belum selesai.
5.      Tidak mau meningkatkan membuat catatan. Ada orang yang beranggapan bahwa semakin banyak catatan semakin tinggi nilainya, penyimak tidak tahu bahwa catatan itu harus singkat dan padat.
6.      Tidak tahu dan tidak mau menyaring tujuan khusus. Ada orang yang tidak menyadari apa tujuan menyimak suatu pembicaraan secara umum, apalagi tujuan khusus.
7.      Tidak memanfaatkan waktu secara tepat guna. Di tengah-tengah kesibukan ada orang yang sedang melamun dan mengantuk. Sungguh perilaku yang memalukan.
8.      Tidak dapat menyimak secara rasional. Ada penyimak yang menuruti perasaannya saja, dia menyimak secara emosilonal.
9.      Tidak mau berlatih menyimak hal-hal yang sulit. Tidak mau melatih diri untuk menyimak hal-hal yang sulit dan rumit berarti dia tidak mau memahami keseluruhan isi pembicaraan yang dikemukakan oleh pembicara

.
M.   Kesalahpahaman
Di antara kesalahpahaman yang berkaitan dengan perilaku menyimak sebagai berikut:
1.      Anggapan bahwa semua perilaku menyimak itu sama saja. Pendapat seperti ini jelas tidak benar. Situasi dan kondisi memegang peranan penting dalam pengubahan perilaku menyimak seseorang.
2.      Anggapan bahwa “mendengar” dan “menyimak” sama saja. Orang yang beranggapan seperti itu jelas tidak memahami makna kedua kata tersebut.
Mendengar (hearing) adalah proses psikologis ketika gelombang-gelombang bunyi ditrasformasikan menjadi implus-implus atau gerakan hati saraf pendengaran.
Menyimak (listening) adalah suatu proses psikologis yang rumit yang merupakan sarana untuk merasakan butir-butir atau bagian lambang dan tanda yang telah disandikan oleh sistem saraf pusat dan sistem saraf otomatis yang diubah menjadi pesan-pesan yang dapat dipahami (Ehninger [et all], 1978:22 -3).
Singkatnya: mendengar adalah proses jasmaniah, sedangkan menyimak adalah proses rohaniah.
3.      Anggapan bahwa menyimak tidak dapat dikembangkan atau ditingkatkan. Sejumlah program komersial yang terdapt di wilayah pengembangan menyimak menyatakan bahwa para penggembleng usaha atau bisnis itu merasakan sebaliknya. Memang terdapat perbedaan pendapat atau ketidakcocokan antar para peneliti mengenai ketepatangunaan atau keefektifan teknik-teknik latihan pilihan seperti itu, tetapi modifikasi atau pengawasan terhadap perilaku menyimak yang jelek itu mungkin dilakukan.
4.      Anggapan bahwa hanya sedikit waktu yang diperlukan dalam menyimak. Telaah-talaah yang telah dilaksanakan bagi para pekerja, para mahasiswa perguruan tinggi, ibu-ibu rumah tangga, dan lainnya, menyatakan bawa kira-kira 45% sampai 50% waktu berkomunikasi justru dipergunakan dalam perilaku atau kegiatan menyimak. Dengan perkataan lain, hampir setengah waktu berkomunikasi diperuntukan menyimak. Jadi tidak benar bahwa untuk menyimak hanya diperlukan waktu sedikit saja (Mc Cabe & Bender, 1981:91).
N.    Aneka Permasalahan Menyimak
Salah satu cara untuk meningkatkan suatu kegiatan menyimak itu ialah menilai perilaku kita sendiri ketika menyimak supaya dapat menetukan apakah kita menggunakan kebiasaan yang mungkin mengganggu kegiatan menyimak sehingga tidak tepat guna lagi. Segala masalah yang berkaitan dengan kegiatan menyimak harus kita pecahkan dan kita selesaikan sendiri. Diantara sekian banyak masalah yang harus kita selesaikan itu, adalah sebagai berikut ini.


Masalah pertama: Memprasangkai pembicara
Terkadang, secara sadar atau tidak sadar, kita lebih memusatkan perhatian pada gaya dan cara penampilan pembicara ketimbang pada pesan yang hendak disampikan. Walaupun tujuan khusus  menyimak mungkin dipusatkan pada penampilan-hal ini merupakan suatu tujuan tertentu.
Masalah kedua: Berpura-pura menaru perhatian
Terkadang ada orang-orang yang berpura-pura menyimak dengan serius, dengan cara menatap pembicara dengan kedua mata tanpa kedipan, diikuti pula dengan anggukan, tetapi sebenarnya perhatian bukan tertuju pada pembicara, pikirannya terbang melayang melayang mengembara ke tempat lain.
Masalah ketiga: Kebingungan
Orang yang duduk di sebelah kita selalu batuk-batuk dan garuk-garuk kepala. Suara di luar dan di dalam dapat mengganggu kita, semua itu dapat membuat kita bingung. Kita dengan mudah dapat dijauhkan dari ide-ide pembicara oleh berbagai gangguan, ini benar-benar merupakan masalah dalam kegiatan menyimak.
Masalah keempat: Pertimbangan premature
Sebagai pengganti menahan pertimbangan atau keputusan sampai pembicara selesai berbicara, banyak diantara kita menolak suatu topik sebagai sesuatu yang tidak menarik, yang terlalu sukar, atau yang tidak bernilai. Ini semua menghalangi kita untuk menyimak dengan serius, dan masalah ini harus diselesaikan sedini mungkin kalau kita ingin menjadi penyimak yang baik.
Masalah kelima: Salah membuat catatan
Mencoba menulis terlalu banyak ataupun mencoba menyesuaikan ide-ide pembicara dengan suatu pola yang sudah dirancang sebelumnya dapat mengurangi kefesienan menyimak. Masalah ini harus segera diatasi. Buatlah catatan yang singkat, tepat, dan berguna.

Masalah keenam: Hanya menyimak fakta-fakta
Berbagai telaah menunjukan bahwa menyimak demi fakta, bukan demi idea tau gagasan, pasti mengurangi ketepatgunaan atau keefesienan kegiatan menyimak. Harus diingat dan disadari bahwa ide-ide atau gagasan-gagasan akan membantu para penyimak untuk lebih memanfaatkan fakta-fakta sebagai sarana penunjang.
Masalah ketujuh: Melamun
Banyak orang kurang tahu bahwa otak manusia sanggup memproses informasi lebih cepat daripada kecepatan berbicara yang dilakukan oleh banyak pembicara. Sebagai konsekuensi dari kenyataan ini, masih ada waktu untuk “memikirkan” hal-hal di luar topik yang disajikan oleh pembicara atau penceramah.
Masalah kedelapan: Bereaksi secara emosional
Kata-kata, gaya, cara penampilan pembicara dapat saja mengundang emosi, sehingga kita tidak lagi menyimak secara rasional. Kegagalan menguasai emosi akan mengurangi mutu menyimak. Berlatih menyimak secara rasional dapat mengurangi emosi yang berlebihan.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kondisi fisik seorang penyimak merupakan factor penting yang turut mentukan keefektifan serta kualitas keaktifan dalam menyimak. Factor psikologis yang positif memberikan pengaruh yang baik sedangkan factor psikologis yang negative memberikan pengaruh yang buruk terhadap kegiatan menyimak. Agaknya tidak perlu disangsikan lagi bahwa sikap-sikap kita merupakan hasil pertumbuhan, perembangan serta pengalaman kita sendiri. Memahami sikap menyimak merupakan salah satu modal penting bagi pembicara untuk menarik minat atau perhatian para penyimak. Motivasi merupakan salah satu penentu keberhasilan seseorang. Kalau seseorang memiliki motivasi kuat untuk mengerjakan sesuatu, orang itu diharapkan akan berhasil mencapai tujuan. Dari beberapa penelitian, beberapa pakar menarik kesimpulan bahwa pria dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian yang berbeda, dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda. Kemauan menyimak dapat juga dipengaruhi oleh peranan kita dalam masyarakat. Perilaku jelek dalam menyimak pasti akan memberi pengaruh atas berhasil atau tidaknya seseorang dalam kegiatan menyimak. Salah satu cara untuk meningkatkan suatu kegiatan menyimak itu ialah menilai perilaku kita sendiri ketika menyimak supaya dapat menetukan apakah kita menggunakan kebiasaan yang mungkin mengganggu kegiatan menyimak sehingga tidak tepat guna lagi. Segala masalah yang berkaitan dengan kegiatan menyimak harus kita pecahkan dan kita selesaikan sendiri.

B.     Saran
Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca atau menyimak dan menambah motivasi dalam hal menyimak dengan baik, dan diharapkan pula mampu menambah wawasan guna untuk membangun bangsa yang berintelektual.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar