Jumat, 27 November 2015

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN : ONTOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Ontologi membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembahasan realitas.
Ilmu merupakan kegiatan untuk mencari suatu pengetahuan dengan jalan melakukan pengamatan atau pun penelitian, kemudian peneliti atau pengamat tersebut berusaha membuat penjelasan mengenai hasil pengamatan atau penelitiannya tersebut. Dengan demikian, ilmu merupakan suatu kegiatan yang sifatnya operasional. Jadi terdapat runtut yang jelas dari mana suatu ilmu pengetahuan berasal.Karena sifat yang operasional tersebut, ilmu pengetahuan tidak dapat menempatkan diri dengan mengambil bagian dalam pengkajiannya. Maka dari pendahuluan ini saya akan merumuskan masalah apa saja yang ada dalam penjelasan makalah ini.
B.   RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan ontologi?
2.      Bagaimana hubungan ontologi dengan filsafat pendidikan?
3.      Bagaimanakah penerapan ontologi dalam filsafat pendidikan ?
4.      Apa saja aliran-aliran dalam ontology?
5.      Apa manfaat mempelajari ontology?
C.   TUJUAN
1.      Memahami pengertian ontology.
2.      Menjelaskan hubugan antara ontologi dengan filsafat pendidikan.
3.      Memahami penerapan ontologi filsafat menurut bebrapa aliran.
4.      Mengetahui aliran-aliran ontology.
5.      Mengetahui manfaat mempelajari ontology.


BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN ONTOLOGI
Ontologi berasal dari dua jata yaitu ta onta berarti “yang berada”, dan logi berarti “ilmu pengetahuan atau ajaran”. Maka ontology adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang keberadaan. Ontology menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas (wujud) dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisik, hal universal, abstrak) dapat dikatakan dalam rangka tradisional. Ontology sering diidentikan dengan metafisika dan juga disebut proto-filsafia atau filsafat yang pertama, atau filsafat ketuhanan yang bahasanya adalah hakikat sesuatu, persetuan, sebab akibat, realitas, atau Tuhan dengan segala sifatnya. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip dasar atau dalam arti segala sesuatu yang ada. Para ahli memberikan pendapatnya tentang realita itu sendiri, diantaranya Bramel. Ia mengatakan bahwa ontologi ialah interprestasi tentang suatu realita dapat berfariasi, misalnya apakah bentuk dari suatu meja itu substansi dengan kualitas materi, inilah yang dimaksud dari setiap orang bahwa suatu meja itu suatu relita yang konkret. Plat0 mengatakanjika berda di dua dunia yag kita lihat dan kita hayati dengan kelima panca indera kita nampaknya cukup nyata atau real.
B.     Hubungan Ontologi dengan Filsafat Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan yang sadar akan tujuan. Makna dari pendidikan disini bermaksud untuk mencapai tujuan, maka tujuan jadi hal penting dalam penyelenggaraan. Oleh karena itu, pendidikan dikatakan bahwa pendidikan dapat membawa anak menuju kedewasaan, dewasa dari segi jasmani maupun rohani. Dengan mengetahui makna pendidikan maka makna ontology dalam pendidikan itu sendiri merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Jadi hubungan ontology dengan pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana disitulah terletak undang-undang dasarnya dunia ilmu.
Diatas telah disebutkan bahwa pendidikan ditinjau dari sisi ontogy berarti persoalan tentang hakikat keberadaan pendidikan. Oleh sebab itu dapat di pahami bahwa ontology pendidikan berarti pendidikan dalam hubungannya dengan asal mula , eksistensi, dan tujuan kehidupan manusia.tanpa manusia, pendidikan tak pernah ada.


C.     Penerapan Ontology Filsafat Pendidikan
1.      Ontology Progressivisme
Ontology Progressivisme adalah kenyataan dalam pengalaman kehidupan manusia. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atau segala sesuatu, pengalaman manusia tentang penderitaan,kesedihan,kegembiraan, keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati.
Aplikasi pandangan ini terhadap pendidikan adalah pada saat proses pembelajaran agar anak dapat memahami apa yang di pelajari mereka harus memahami secara langsung.
2.      Ontology Essensialisme
Essensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Sifat yang menonjol dari ontology essensialisme adalah suatu konsep bahea dunia ini dikuisai oleh tata yang tiada cela yang mengatur isinya dengan tiada pula. Tujuan umum aliran essensialisme adalah membentuk pribada bahagia di dunia dan di akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pngetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu kehendak manusia. Aplikasinya dalam kegiatan belajar mengajar guru diselipkan nilai keagamaan antara lain berdoa sebelum kegiatan belajar mengajar.
3.      Ontology Pereniaslisme
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses pengembalian keadaan sekarang. Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisi di berbagai kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang diangap cukup ideal dan teruji ketanguhannya.
4.      Ontology Rekontrusionisme
Rekntruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal, yang mana realita itu ada di mana dan sama disetiap tempat. Aliran rekontruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamat dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Kaitan aliran ini dengan pendidikan adalah pendidikan itu tidak diselenggarakan secara terpusat, melinkan secara universal. Kewajiban pendidik memlui latar belakang ontologis ialah membina daya pikir yang tinggi dan kritis.
D.    ALIRAN-ALIRAN ONTOLOGY
Dalam mempelajari ontologi filsafat pendidikan muncul beberapa aliran-aliran dalam filsafat dan muncul beberapa pertanyaan berupa “apakah yang ada itu?”, “bagaimana yang ada itu?”, “ dimanakah yang ada itu ?”.
1.      Apakah yang ada itu?
Untuk menjawab pertanyaan ini lahirlah lima filsafat , yaitu:  
a.       Aliran monoisme
Aliran ini berpendaat bahwa yang ada itu hanya satu . hanya ada satu sumber hakikat saja baik berupa materi ataupun ruhani.jadi tidak mungkin hakikat itu berdiri bebas sendiri , pasti ada salah satu yang menjadi pokok atau dominan menentukan perkembangan yang lainnya . plato menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan yang sebenarnya .paham ini terbagi ke dalam dua aliran :
·         Matrealisme
Alirani ini menganggap sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut aliran naturalisme. Bahwasanya zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.
·         Idealisme
Idealisme diambil dari kata idea yang ertinya suatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada yang tidak tampak, ia berada dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini di anggap hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan selalu menipu.
b.      Aliran Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan roh, jasad dan spiritual. Dua hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini.



c.       Aliran pluralisme
Aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan, bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.
d.      Aliran Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakuai foliditas alternative positif.
e.       Aliran Agnotisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat rohani. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal.
2.      Bagaimanakah yang ada itu?
Zeno (490-530 SM) menyatakan bahwa suatu itu sebenarnya khayalan belaka, namun Whitehead mengatakan bahwa alam ini dinamis terus bergerak dan merupakan struktur peristiwa yang mengalir terus secara kreatif.
3.      Dimanakah yang ada itu?
Yang ada itu berada dalam alam ide, adi kodrati, universal, tetap abadi, dan abstrak. Sementara aliran matrealisme berpendapat sebaliknya bahwa yang ada itu bersifat fisik kodrati, individual, berubah-rubah dan real.
Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan; untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma- norma moral/professional?

E.     Manfaat Mempelajari Ontologi
Ontology yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu mempunyai beberapa manfaat, diantaranya sebagai berikut :
1.      Membantu untuk mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan sistem pemikiran yang ada.
2.      Membantu memecahkan masalah polarelasi antar baerbagai eksisten dan eksistensi.
3.      Bias mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan maupun masalah, baik itu sains maupun etika.

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Ontology adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas mengenai hakikat dari sesuatu yang ada, dimana hakikat disini ialah pernyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.
2.      Hubungan antara ontology dengan filsafat pendidikan yaitu dimana ontology menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu. Sebagai nilai filosofis dari ilmu itu sendiri, sehingga pendidikan memiliki pandangan yang jelas untuk menciptakan manusia yang sesungguhnya.
3.      Aliran monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologi yang pada akhirnya menentukan pendapat dan kenyakinan kita masing-masing tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu.






















DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Idi, jalaluddin. 1997. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Susanto. A. 2001. Filsafat Ilmu. Jakarta: Bumi Aksara.
Surajio.2005.ilmu filsafat suatu pengantar.jakarta:bumi aksara.

Tafsir,Ahmad.2003.filasat umum.bandung;remaja rosdakarya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar