BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akal merupakan kelebihan yang
dimiliki manusia dari mahluk lain. Dari akal pula muncul berbagai ilmu
pengetahuan, karena pemikiran yang dilakukan akal bersumber pula dari ilmu-ilmu
yang telah ada. Dan dengan kemampuan rasio pula manusia dapat menjangkau jauh
dari sesuatu yang hanya terlihat (empiris), sesuatu di luar indera dan
menemukan sebuah kebenaran filsafat.
Wacana filsafat yang menjadi
topik utama pada zaman modern, khususnya abad ke-17, adalah persoalan
epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemologi adalah bagaimana
manusia memperoleh pengetahuan dan apakah sarana yang paling memadai untuk
mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu
sendiri
Dengan tingkat pemahaman manusia yang
beragam menyebabkan perbedaaan pendapat tentang kebenaran yang di anut. Dan hal
ini menimbulkan berbagi aliran dalam dunia filsafat, salah satunya adalah
filsafat materialisme yang lebih menekankan pada kenyataan dan empirisme. Maka
dalam makalah ini akan dibahas aliran yang sarat dengan hal nyata, namun kita
harus tahu bagaimanakah filsafat, dan makalah ini akan menjawabnya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
maka dapat dibuat rumusan masalah, yakni:
Apa pengertian dari filsafat?
Apa pengertian dari filsafat aliran
materialisme?
Apa pengertian pragmatisme?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui pengertian dari
filsafat.
Untuk mengetahui pengertian dari
filsafat aliran materialisme.
Untuk mengetahui pengertian dari
filsafat aliran pragmatisme
BAB II
PEMBAHASAN
Sebelum masuk kedalam
pembahasan tentang filsafat pendidikan materialisme dan pragmatisme, ada
baiknya kita mengetahui arti filsafat itu sendiri. Kata falsafah atau filsafat
dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab yang juga
diambil dari bahasa Yunani philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan
kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan
(sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang
“pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga
dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam
bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut
"filsuf".
Adapun pengertian filsafat menurut
para ahli adalah:
a. Plato
Filsafat adalah pengertian
segala sesuatu yag ada da ilmu yang berminat mencapai kebenaran asli
b. Aristotele
Filsafat adalah ilmu yang
terkandung dalam metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.
c. Marcus Tulius
Cecero
Filsafat adalah ilmu
pengetahuan sesuatu Yang Maha Agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
d. Al
Farabi
Filsafat adalah ilmu tentang
alam maujud dan hakikat yang sebenarnya.
2.1 FILSAFAT PENDIDIKAN MATERIALISME
2.1.1 Latar Belakang Pemikiran
Karakteristik umum
materialisme pada abad delapan belas berdasarkan pada suatu asumsi bahwa
realitas dapat dikembangkan pada sifat-sifat yang sedang mengalami perubahan
gerak dalam ruang (Randal,et.al,1942). Asumsi tersebut menunjukkan bahwa :
1) Semua
sains seperti biologi,kimia,psikologi,fisika,sosiologi,ekonomi,dan yang lainnya
ditinjau dari dasar fenomena materi yang berhubungan secara kausal (sebab
akibat).jadi,semua sains merupakan cabang dari sains mekanika;
2) Apa
yang dikatakan “jiwa” (mind) dan segala kegiatannya (berpikir,memahami) adalah
merupakan suatu gerakan yang kompleks dari otak,system urat saraf, atau
orga-organ jasmani yang lainnya.
3) Apa
yang disebut dengan nilai dan cita-cita,makna dan tujuan hidup, keindahan dan
kesenangan, serta kebebasan,hanyalah sekedar nama-nama atau semboyan, symbol
subjektif manusia untuk situasi atau hubungan fisik yang berbeda.
Ludwig Feuerbach (1804-1872)
mencanangkan suatu metafisika materialistis,suatu etika yang humanistis, dan
suatu epistemology yang menjungjung tinggi pengenalan inderawi.oleh karena
itu,ia ingin mengganti idealisme Hegel (guru Feuerbach) dengan
materialisme.jadi,menurut Feuerbach,yang ada hanyalah materi,tidak mengenal
alam spiritual. Kepercayaan kepada Tuhan hanyalah merupakan suatu proyeksi dari
kegagalan atau ketidakpuasan manusia untuk mencapai cita-cita kebahagiaan
dalam hidupnya. Dengan kegagalan tersebut manusia memikirkan suatu wujud yang
bahagia secara absolut, oleh karena itu, Tuhan hanyalah merupakan hasil khayalan
manusia. Tuhan diciptakan oleh manusia sendiri,secara maya,padahal wujudnya
tidak ada.
Cabang materialisme yang banyak
diperhatikan orang dewasa ini,dijadikan sebagai landasan berpikir adalah “Positivisme”. Menurut positivism,kalau
sesuatu itu memang ada,maka adanya itu adalah jumlahnya.
Zaman positif (Harun
Hadiwijono, 1980) adalah zaman dimana orang tahu,bahwa tiada gunanya untuk
berusaha mencapai pengetahuan yang mutlak,baik pengenalan teologi maupun
pengenalan metafisik. Ia tidak lagi melacak awal dan tujuan akhir dari seluruh
alam semesta,atau melacak hakikat yang berada dibelakang segala
sesuatu.sekarang orang berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan aturan yang
terdapat pada fakta-fakta yang telah dikenal atau yang disajikan
kepadanya,yaitu dengan mengamati semua fakta-fakta yang positif yang
menampakkan pada pancaindera dan menggunakan akalnya.
Jadi,dikatakan positivisme,karena
mereka beranggapan bahwa yang dapat kita pelajari hanyalah yang mendasarkan
fakta-fakta,berdasarkan data-data yang nyata,yaitu yang mereka namakan positif.
Selanjutnya,dapat kita simak
pandangan Thomas Hobbes,sebagai pengikut empirisme materialistis. Ia
berpendapat bahwa pengalaman merupakan awal dari segala pengetahuan,juga awal
pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan dikukuhkan oleh pengalaman.
Hanya pengalamanlah yang memberikan kepastian pengetahuan melalui akal hanya
memiliki fungsi mekanis semata,sebab pengenalan dengan akal mewujudkan suatu
proses penjumlahan dan pengurangan.
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani,
bukan spiritual, atau supranatural. Demokritos (460-360 SM), merupakan pelopor
pandangan materialisme klasik, yang disebut juga “atomisme”.
Demokritos beserta pengikutnya
beranggapan bahwa segala sesuatu terdiri dari bagian-bagian kecil yang tidak
dapat dbagi-bagi lagi (yang disebut atom-atom). Atom-atom merupakan bagian dari
yang terkecil sehingga mata kita tidak dapat melihatnya.
Menurut aliran
realisme, kepercayaan kepada tuhan hanyalah merupakan suatu proyeksi dari
kegagalan atau ketidakpuasan manusia untuk mencapai cita-cita kebahagiaan dalam
hidupnya. Dengan kegagalan tersebut manusia memikirkan suatu wujud diluar
dirinya yang dikhayalkannya memiliki kesempurnaan , yang merupakan sumber
kehidupan manusi, suatu wujud yang bahagia secara absolut. Oleh karena
itu, than hanyalah merupakan hasil khayalan manusi. Tuhan diciptakan oleh
manusia sendiri, secara maya padahal wujudnya tidak ada.
Cabang
materialisme yang banyak diperhatikan orang dewasa ini, dijadikan sebagai
landasan berpikir adalah “positivisme”. Menurut positivisme, kalau sesuatu itu
memang ada. Maka adanya itu adalah jumlahnya. Dan jumlah itu dapat diukur.
Menurut Comte dalam Sadulloh
(2003:114), terdapat tiga perkembangan berpikir yang dialami manusia yaitu:
a. Tingkatan
teologis,
Dalam hal ini pola berpikir
manusia dikuasai oleh tahayul dan prasangka
b. Tingkatan
metafisik,
Pada tingkatan ini, pola
berpikir manusia telah meninggalkan teologis, namun masih berpikir abstrak,
masih mempersoalkan hakikat dari segala yang ada, termask hakikat yang gaib
juga.
c. Tingkatan
positif,
Dalam hal ini, tingatan
berpikir yang mendasarkan pada sains, dimana pandangan dgmatis dan spekulatif
metafisik diganti oleh pengetahuan faktual.
2.
Ciri-ciri filsafat materialisme
Segala yang ada (wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi
-
Tidak meyakini adanya alam ghaib
-
Menjadikan panca-indera sebagai
satu-satunya alat mencapai ilmu
-
Memposisikan ilmu sebagai pengganti
agama dalam peletakkan hukum
-
Menjadikan kecondongan dan tabiat
manusia sebagai akhlaq
3.
Variasi aliran filsafat materialisme
Aliran materialisme memiliki
dua variasi yaitu materialisme dialektik dan materialisme metafisik.
a.
Filsafat Materialisme Dialektika
Materialisme dialektika adalah materialisme yang memandang segala sesuatu
selalu berkembang sesuai dengan hukum-hukum dialektika: hukum saling hubungan
dan perkembangan gejala-gejala yang berlaku secara objektif didalam dunia
semesta. Pikiran-pikiran materialisme dialekti inipun dapat kita jumpai dalam
kehidupan misalnya, “bumi berputar terus, ada siang ada malam”, “habis gelap
timbullah terang”, “patah tumbuh hilang berganti” dsb. Semua pikiran ini
menunjukkan bahwa dunia dan kehidupan kita senantiasa berkembang.
b.
Filsafat Materialisme Metafisik
Materialisme metafisik, yang memandang dunia secara sepotong-sepotong atau
dikotak-kotak, tidak menyeluruh dan statis. Pikiran-pikiran materialisme
metafisik ini misalnya: “sekali maling tetap maling”, memandang orang sudah
ditakdirkan, tidak bisa berubah.
4.
Implikasi Aliran Filsafat Materialisme untuk Pendidikan
Materialisme maupun
positivisme, pada dasarnya tidak menyusun konsep pendidikan secara eksplisit.
Bahkan menurut Waini Rasyidin dalam (1992) dalam Sadulloh (2003:116) filsafat
positivisme sebagai cabang dari materialisme lebih cenderung menganalisis
hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi upaa dan hasil pendidikan secara
faktual. Memilih aliran positivisme berarti menolak filsafat pendidikan dan
mengutamakan sains pendidikan. Sains pendidikan yang dipergunakan dalam
mempelajari pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, ialah berdasarkan
pada hasil temuan dan kajian ilmiah dalam psikologi, yaitu psikologi aliran
behaviorisme.
Behaviorisme yang berakar dari
positivisme dan materialisme telah populer dalam menyusun teori pendidikan,
terutama dalam teori belajar yaitu apa yang disebut dengan “conditioning
theory” yang dikembangkan oleh E.L. Thorndike dan B.F. skinner.
Menurut behaviorisme, perilaku
manusia adalah ahasil pembentukan melalui kondisi lingkungan. Yang dimaksud
perilaku adalah hal-hal yang dapat berubah, dapat diamati, dan dapat diukur
(materialisme dan positivisme). Hal ini mengandung implikasi bahwa proses
pendidikan menekankan pentingnya keterampilan dan pengetahuan akademis yang
empiris sebagai hasil kajian sains, serta perilaku sosial sebaga hasil belajar.
Power (1982) dalam Sadulloh
(2003:117) mengemukakan beberapa implikasi pendidikan positivisme behaviorisme
yang bersumber pada filsafat materialisme sebagai berikut:
a. Tema
Manusia yang baik dan efisien
dihasilkan dengan proses pendidikan terkontrol secara ilmiah dan seksama
b. Tujuan
pendidikan
Perubahan perilaku,
mempersiapkan manusia sesuai dengan kapasitasnya, untuk tanggung jawab hidup
sosial dan pribadi yang kompleks
c. Kurikulum
Isi pendidikan mencakup
pengetahuan yang dapat dipercaya dan diorganisasi, selalu berhubungan dengan
sasaran perilaku.
d. Metode
Semua pelajaran dihasilkan
dengan kondisionisasi (SR Conditioning), operant conditioning, reinforcement,
pelajaran berprogram dan kompetensi.
e. Kedudukan
siswa
Tidak ada kebebasan. Perilaku
ditentukan oleh kekuatan dari luar. Pelajaran sudah dirancang. Siswa
dipersiapkan untuk hidup. Mereka dituntut untuk belajar.
f. Peranan
guru
Guru memiliki kekuasaan untuk
merancang dan mengontrol proses pendidikan. Guru dapat mengukur kualitas dan
karakter hasil belajar siswa.
Kelebihan
Aliran Filsafat Pendidikan Materialisme:
a. Paham
materiaslime berpegang pada kenyataan-kenyataan yang mudah dimengerti bukan
pada dalil-dalil abstrak.
b. Teori-teorinya
jelas berdasarkan teori-teori pengetahuan yang sudah umum.
c. Semua
perubahan yang terjadi bersifat kepastian semata.
d. Semua
pelajaran dihasilkan dengan pelajaran berprogram dan kompetensi.
Kelemahan Aliran
Filsafat Pendidikan Materialisme
a. Materialisme
mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri.
b. Aliran
materialisme tidak mencakup keseluruhan.
c. Materialisme
mengingkari faktor penting dalam kehidupan.
d. Dalam
agama islam aliran ini dianggap tidak sesuai dengan ajaran agama.
. 2.2
FILSAFAT PENDIDIKAN PRAGMATISME
Pragmatisme berpandangan bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami.
Istilah lain yang dapa diberikan pada filsafat pragmatisme adalah instrumentalisme
dan eksperimentalisme. Disebut instrumentalisme, karena menganggap bahwa dalam
hidup ini tidak dikenal tujuan akhir, melainkan hanya tujuan antara dan
sementara yang merupakan alat untuk mencapai tujuan selanjutnya, termasuk dalam
pendidikan tidak mengenal tjuan akhir. Dikatakan eksperimentalisme, karena
filsafat ini menggunakan metode eksperimen dan berdasarkan atas pengalaman
dalam menentukan kebenarannya.
1.
Realisme
Realitas merupakan interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Manusia dan
lingkungannya berdampingan, dan memiliki tanggung jawab yang sama terhadap
realitas. Perubahan merupakan esensi realitas, dan manusia harus siap mengubah
cara-cara yang akan dkerjakannya. Manusia pada hakikatnya palstis dan dapat berubah.
Anak akan tumbuh apabila berhubungan dengan yang lainnya. Anak harus
mempelajari hidup dalam komunitas individu-individu, bekerjasama dengan mereka,
dan menyesuaikan dirinya secara cerdas terhadap kebutuhan dan aspirasi
masyarakat.
Tema pokok filsafat pragmatisme adalah:
a.
Esensi realitas dalam perubahan
b.
Hakikat sosial dan biologis manusia yang esensial
c.
Relativitas nilai
d.
Penggunaan inteligensi secara kritis
Watak
pragmatisme adalah humanistis dan menyetujui suatu dalil “manusia adalah ukuran
segala-galanya”. Tujuan dan alat pendidikan harus fleksibel dan terbuka untuk
perbaikan secara terus menerus. Tujuan dan cara untuk mencapai tujuan
pendidikan harus rasional dan ilmiah.
2.
Pengetahuan
Pengetahuan
sebagai transaksi antara manusia dengan lingkungannya,dan kebenaran merupakan
bagian dari pengetahuan. Pragmatisme mengajarkan bahwa tujuan semua berpikir
adalah kemajuan hidup. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang berguna,menurut
james,suatu ide itu benar apabila berakibat memberi kepuasan jika diuji secara
objektif dan ilmiah.
Secara
khusus pragmatisme mengemukakan bahwa ide yang benar tergantung kepada
konsekuensi-konsekuensi yang diobservasi secara objektif,dan ide tersebut
operasional.Teori kebenaran merupakan alat yang kita pergunakan untuk
memecahkan masalah dalam pengalaman kita.jadi,menurut pragmatisme suatu teori
itu benar apabila berfungsi.kebenaran bukan sesuatu yang statis,melainkan
tumbuh berkembang dari waktu ke waktu.
Menurut
james (Harun Hadiwijono. 1980) dalam Sadulloh (2003) tidak ada kebenaran mutlak
berlaku umum,bersifat tetap,berdiri sendiri,lepas dari akal pikiran yang
mengetahui. Pragmatisme juga berpandangan bahwa metode intelegen merupakan cara
ideal untuk memperoleh pengetahuan.
Untuk
memecahkan masalah-masalah social dan perorangan yang paling
penting,diharapkan menerapkan logika sains pada pengalaman yang problematic.
Menurut john Dewey, yang dikemukakan oleh Waini Rasyidin (1992 : 144)
dalam Sadulloh (2003) bahwa dalam menerapkan konsep pragmatisme secara
eksperimental dalam memecahkan masalah hendaknya melalui lima tahapan yaitu;
a. indeterminate
situation,timbulnya situasi ketegangan didalam pengalaman yang perlu dijabarkan
secara spesifik.
b. diagonis,artinya
timbul upaya mempertajam masalah sampai pada menentukan factor-faktor yang
diduga menyebabkan timbulnya masalah.
c. Hypothesis,artinya
ada upaya menemukan gagasan yang diperkirakan dapat mengatasi masalah,dengan
jalan mengerahkan pengumpulan informasi yang Penting-penting
d. Hypothesis
testing,yaitu pelaksanaan berbagai hipotesis yang paling relevan secara
teoritis untuk membandingkan implikasi masing-masing kalau dipraktikkan.
e. evaluation,artinya
mempertimbangkan hasilnya setelah hipotesis terbaik dilaksanakan,yaitu dalam
kaitan dengan masalah yang dirumuskan pada langkah ke-2 dan ke-3.
Berdasarkan langkah-langkah
diatas, Dewey berusaha menyusun suatu materi yang logis dan tepat berdasarkan
konsep-konsep,pertimbangan-pertimbangan,penyimpulan penyimpulan dalam bentuknya
yang beraneka ragam,dalam arti alternatif –alternatif.
Menurut Dewey yang benar
adalah apa yang pada akhirnya disetujui oleh semua orang yang menyelidikinya.
Selanjutnya pada bagian
lain Dewey mengatakan bahwa pengalaman merupakan suatu interaksi antara
lingkungan dengan organisme biologis.kegiatan berpikir timbul disebabkan karena
adanya gangguan terhadap situasi yang menimbulkan masalah bagi manusia.untuk
memecahkan masalah tersebut disusun hipotesis sebagai bimbingan bagi tindakan
berikutnya,
Dewey menegaskan bahwa
berpikir khususnya berpikir ilmiah merupakan alat untuk memecahkan masalah
itulah yang disebut metode intelegen ataumetode
ilmiah. John Dewey mengembangkan sebuah teori
pengetahuan dari sudut peranan biologis dan
psikologis.konsep-konsepnya merupakan bimbingan untuk mengarahkan
kegiatan intelektual manusia kearah masalah social yang timbul pada waktu
itu.Menurut Dewey,tugas filsafat adalah memberikan garis-garis pengarahan bagi
perbuatan dalam kenyataan hidup.
3.
Nilai
Pragmatisme
mengemukakan pandangannya tentang nilai,bahwa nilai itu relatif.kaidah-kaidah
moral dan etik tidak tetap,melainkan selalu berubah seperti perubahan
kebudayaan,masyarakat,dan lingkungannya. Menurut pragmatisme kita harus mempertimbangkan
perbuatan manusia dengan tidak memihak dan secara ilmiah memiliki nilai-nilai
yang tampaknya memungkinkan untuk memecahkan masalah –masalah yang dihadapi
manusia. Nilai lahir dari keinginan,dorongan,dan perasaan serta kebiasaan
manusia sesuai dengan watak manusia sebagai kesatuan antara
factor-faktor biologis dan factor social dalam diri dan
kepribadiannya. Nilai merupakan suatu realitas dalam kehidupan yang dapat
dimengerti sebagai suatu ide, suatu perilaku, pengetahuan, atau ide dikatakan
benar apabila mengandung kebaikan, berguna, dan bermanfaat bagi manusia untuk
penyesuaian diri dalam kehidupan pada suatu lingkungan tertentu.
4.
Pendidikan
a)
Konsep pendidikan
Menurut Dewey terdapat dua
teori pendidikan yang saling bertentangan antara yang satu dengan yang
lainnya.kedua teori pendidikan tersebut adalah
paham konservtif dan “unfolding theory” (teori pemerkahan).
Teori konservatif mengemukakan bahwa pendidikan adalah sebagai suatu
pembentukan terhadap pribadi anak tanpa memperhatikan kekuatan-kekuatan atau
potensi-potensi yang ada dalam diri anak. “unfolding theory”berpandangan
bahwa anak akan berkembang dengan sendirinya, Karena ia telah memiliki
kekuatan-kekuatan laten, dimana perkembangan sianak telah memiliki tujuan
yang pasti. Menurut pragmatisme pendidikan bukan merupakan suatu proses
pembentukan dari luar,dan juga bukan merupakan suatu pemerkahan
kekuatan-kekuatan laten dengan sendirinya. Pendidikan menurut pragmatisme
merupakan suatu proses organisasi dan rekonstruksi dari pengalaman-pengalaman
individu. Pengalaman-pengalaman tersebut bukan terdiri atas materi intem maupun
materi yang diungkapkan,melainkan materi yang berasal dari aktivitas yang asli
dari lingkungan. Selanjutnya John Dewey mengemukakan perlunya atau
pentingnya pendidikan karena berdasarkan atas tiga pokok pemikiran yaitu :
-
pendidikan merupakan kebutuhan untuk
hidup
-
pendidikan sebagai pertumbuhan
-
pendidikan sebagai fungsi sosial
b) Pendikan
Sebagai Kebutuhan Untuk Hidup
Pendidkan merupakan kebutuhan untuk hidup
karena adanya anggapan bahwa pendidikan selain sebagai alat,pendidikan juga
berfungsi sebagai pembaharuan hidup.
1)
Pendidikan Sebagai Pertumbuhan
Menurut Dewey pertumbuhan
merupakan suatu perubahan tindakan yang berlangsung terus untuk mencapai suatu
hasil selanjutnya.pertumbuhan itu terjadi karena kebelummatangan. Ciri dari
kebelummatangan adalah adanya ketergantungan dan plastisitas si anak. Yang
dimaksud plastisitas adalah kemampuan belajar dari pengalaman,yang merupakan
pembentukan kebiasaan
2)
Pendidikan Sebagai Fungsi Sosial
Masyarakat
meneruskan,menyelamatkan sumber dan cita-cita masyarakat,dalam hal ini
lingkungan merupakan syarat bagi pertumbuhan dan fungsi
pendidikan merupakan “a process of leading and bringing up”
Sekolah sebagai alat tranmisi
merupakan suatu lingkungan khusus yang memiliki tiga fungsi yaitu :
-
Menyederhanakan dan menertibkan
factor-faktor bawaan yang dibutuhkan untuk berkembang
-
Memurnikan dan mengidealkan kebiasaan
masyarakat yang ada
-
Menciptakan suatu lingkungan yang
lebih luas dan lebih baik daripada yang diciptakan anak tersebut dan menjadi
milik mereka untuk dikembangkan.
c)
Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan
harus dihasilkan dari situasi kehidupan disekeliling anak dan pendidik,harus
fleksibel dan mencerminkan aktivitas bebas. Tujuan pendidikan menurut
pragmatisme bersifat temporer karena tujuan itu merupakan alat untuk
bertindak.apabila suatu tujuan telah tercapai,maka hasil tujuan tersebut
menjadi alat untuk mencapai tujuan berikutnya.
Beberapa karakteristik tujuan
pendidikan yang harus diperhatikan adalah:
-
Tujuan pendidikan hendaknya
ditentukan dari kegiatan yang didasarkan atas kebutuhan Intrinsic anak didik.
-
Tujuan pendidikan harus mampu
memunculkan suatu metode yang dapat mempersatukan aktivitas pengajaran yang
sedang berlangsung.
-
Tujuan pendidikan adalah spesifik dan
langsung.pendidikan harus tetap menjaga untuk tidak mengatakan yang berkaitan
dengan tujuan umum dan tujuan akhir
d) Proses
pendidikan
Menurut pragmatisme pelajaran
harus didasarkan atas fakta-fakta yang sudah diobservasi,dipahami,serta
dibicarakan sebelumnya. Bahan pelajaran harus mengandung ide-ide yang dapat
mengembangkan situasi untuk mencapai tujuan dan harus ada hubungannya dengan
materi pelajaran. Metode yang sebaiknya digunakan dalam pendidikan adalah
metode disiplin,bukan dengan kekuasaan.
Jadi dalam proses belajar mengajar
ada beberapa saran bagi guru yang harus diperhatikan terutama dalam menghadapi
siswa dalam kelas,yaitu :
-
Guru tidak boleh memaksakan suatu idea
tau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan Kemampuan siswa.
-
Guru hendaknya menciptakan suatu
situasi yang menyebabkan siswa akan merasakan ada-Nya suatu masalah yang ia
hadapi sehingga timbul minat untuk memcahkan masalah tersebut
-
Untuk membangkitkan minat anak
hendaklah guru mengenal kemampuan serta minat masing-masing siswa.
-
Jadi tugas guru dalam proses belajar
mengajar adalah sebagai fasilitator,memberi dorongan dan kemudahan kepada
siswa. Power mengemukakan implikasi filsafat pendidikan pragmatisme terhadap
pelaksanaan pendidikan sebagai berikut:
-
Tujuan pendidikan
Memberi pengalaman untuk
penemuan hal-hal baru dalam hidup sosial dan pribadi.
-
Kedudukan siswa
Suatu organisme yang memiliki
kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh
-
Kurikulum
Berisi pengalaman yang teruji
yang dapat diubah,minat dan kebutuhan siswa yang dibawa kesekolah dapat
menentukan kurikulum
-
Metode
Metode aktif
yaitu learning by doing (belajar sambil bekerja)
-
Peran guru
Mengawasi dan membimbing
pengalaman belajar siswa tanpa mengganggu minat dan kebutuhann
Kelebihan Filsafat Pendidikan
Pragmatisme
- Melahirkan manusia yang humanis.
- Mampu mendorong dan memberi semangat pada seseorang untuk
berlomba-lomba membuktikan suatu konsep lewat penelitian atau eksperimen.
Kelemahan Filsafat Pendidikan
Pragmatisme
a. Pragmatisme
hanya mengakui kebenaran apabila terbukti secara alamiah.
b. Pragmatisme
sangat mendewakan akal dalam mencapai kebutuhan kehidupan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Materialisme
merupakan salah satu aliran dalam dunia filsafat. Materialisme adalah aliran
yang memandang bahwa segala sesuatu adalah relitas dan realitas seluruhnya
adalah materi belaka. Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang
berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan
bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan
akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
3.2 Saran
Filsafat
berdasar rasio, jadi sebaiknya memilih filsafat yang berdasar rasio kita, namun
jangan pernah takut untuk berfilsafat. Filsafat sebaiknya diiringi oleh agama,
yang merupakan kebenaran tertinggi. Dalam makalah ini mungkin masih banyak
terdapat kesalahan atau kekurangan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan
kritik maupun saran-saran dari pembaca khususnya. Melalui makalah ini penulis
menghimbau kepada para teman-teman agar menggali berbagai ilmu pengetahuan dan
meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar