Jumat, 27 November 2015

MAKALAH LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN EPISTEMOLOGI

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam hidup manusia pasti tidak hanya memerlukan kebutuhan pokok saja. Akan tetapi manusia memerlukan informasi disekitar hidup mereka. Dalam hal ini manusia butuh informasi dengan banyak cara apapun yang dilakukan, adapun salah satu informasi komunikasi adalah pengetahuan. Pengetahuan sangat perlu bagi kehidupan manusia karena bermanfaat cukup besar dalam kehidupan. Dalam mencari pengetahuan tak jarang manusia mempelajari Epistemologi. Epistemologi disebut sebagai teori pengetahuan karena mengkaji semua tolak ukur ilmu-ilmu manusia.
Sejak semula epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit , sebab epistomologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang luas. Selain itu pengetahuan merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja, oleh sebabt itu perlu diketahui apa saja yang menjadi dasar-dasar pengetahuan yang dapat digunakan manusia untuk mengembangkan diri dalam mengikuti perkembangan informasi yang pesat.

1.2  Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan Epistemologi ?
2.      Bagaimana ruang lingkup Epistemologi ?
3.      Apa saja aliran-aliran yang ada pada Epistemologi ?
4.      Bagaimana pengaruh Epistemologi terhadap perkembangan manusia ?


1.3  Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian Epistemologi
2.      Untuk mengetahui ruang lingkup Epistemologi
3.      Untuk mengetahui aliran-aliran yang ada pada Epistemologi
4.      Untuk mengetahui pengaruh Epistemologi bagi kehidupan

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Epistemologi
Istilah “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “episteme” yang berarti pengetahuan dan “logos” berarti perkataan, pikiran, atau ilmu. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya menundukkan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, secara harafiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya. Bagi suatu ilmu pertanyaan yang mengenai definisi ilmu itu, jenis pengetahuannya, pembagian ruang lingkupnya, dan kebenaran ilmiahnya, merupakan bahan-bahan pembahasan dari epistemologinya.
Epistemologi sering juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Epistemologi lebih memfokuskan kepada makna pengetahuan yang berhubungan dengan konsep, sumber, dan kriteria pengetahuan, jenis pengetahuan, dan lain sebagainya.
Beberapa ahli yang mencoba mengungkapkan definisi dari pada epistemologi adalah P. Hardono Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemoogi adalah D.W Hamlyin, beliau mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat  dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian – pengandaian serta secara umum hal itu dapat  diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
Runes dalam kamusnya menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, stukture, methods and validity of knowledge. Itulah sebabnya kita sering menyebutnya dengan istilah epistemologi untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F Ferrier pada tahun 1854 (Runes, 1971-1994).


2.2 Ruang Lingkup Epistemologi
   M. Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkas menjadi dua masalah pokok ; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu.
Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi, ternyata hanya aspek-aspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof, sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan.
M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Namun, penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang, terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat, khususnya bidang epistemologi. Hanya saja, jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi, tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan.

2.3 Aliran-Aliran Epistemologi
Ada beberapa aliran yang berbicara tentang ini, diantaranya :
1.    Empirisme
Kata empiris berasal dari kata yunani empieriskos yang berasal dari kata empiria, yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena manusia menyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.
John locke (1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula- mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-lama sulit, lalu tersusunlah pengetahuan berarti.berarti, bagaimanapun kompleks (sulit)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukan pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.
Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen. Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil, sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh sedangkan kalau dilihat dari dekat benda itu besar.
2.      Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, menmperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini adalah Descartes (1596-1650). Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat scholastic yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang erang menderang. Cogito Ergo Sun (saya berpikir, maka saya ada).
            Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakal akal yang terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang inilah pemberian tuhan seorang dilahirkan ( idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan, maka tak mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliran ini disebut rasionlisme. Aliran rasionalisme ada dua macam , yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama , aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik  ajran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan .


3.      Positivisme
Tokoh aliaran ini adalah august compte (1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Misalnya untuk mengukur jarak kita harus menggunakan alat ukur misalnya meteran, untuk mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan misalnya kiloan . Dan dari itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dan didukung oleh bukti empirisnya. Dan alat bantu itulah bagian dari aliran positivisme. Jadi, pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan empirisme dan rasionalisme.

4.      Intuisionisme
Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek yang selalu berubah, demikian bargson. Jadi, pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya manusia menpunyai pemikiran yang berbeda-beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi.
5.      Kritisme
Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru dimana seseorang ahli pemikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Seorang ahli pikir jerman Immanuel Kant (1724-18004) mencoba menyelesaikan persoalan diatas, pada awalnya, kant mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh oleh aliran empirisme. Akhirnya kant mengakui peranan akal harus dan keharusan empiris, kemudian dicoba mengadakan sintesis.  Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari pengalaman (empirime).
Jadi, metode berpikirnya disebut metode kiritis. Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari bahwa adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal.
6.      Idealisme
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata ideayaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern.
Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme secara umum berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktifdapat diperoleh dari manusia denganakalnya.

2.4 Pengaruh Epistemologi
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.
Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis, yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu, perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya.


PENUTUP

3.1.  Kesimpulan
Pengetahuan dapat diperoleh melalui beberapa hal yaitu:
1.      Pengetahuan diperoleh dari akal, yakni pengetahuan yang didapatkan melalui proses berpikir yang logis sehingga dapat diterima oleh akal. Dari sini memunculkan aliran rasionalisme.
2.      Pengetahuan diperoleh dari pengalaman, yakni pengetahuan baru muncul ketika indera manusia menimba pengalaman dengan cara melihat dan mengamati berbagai kejadian dalam kehidupan, jadi ketika manusia lahir benar-benar dalam keadaan yang bersih dan suci dari apapun. Aliran yang mempunyai paham ini adalah aliran empirisme.
3.      Pengetahuan diperoleh dari intuisi, yakni pengetahuan yang bersifat personal, dan hanya orang-orang tertentu yang mendapatkan pengetahuan ini.
3.2.  Saran
Manusia dalam berbuat tentunya terdapat kesalahan yang sifatnya tersilap dari yang telah ditetapkan atau seharusnya. Apalagi dalam kegiatan menyusun makalah ini. Untuk itu, penulis harapkan dari pembaca, mohon kritik dan sarannya guna perbaikkanpenyusunan selanjutnya.




DAFTAR PUSAKA


[2] Ahmad tafsir, 2009. filsafat umum akal dan hati sejak thales sampai capra. Remaja Rosdakarya, Bandung.hal 23
[3] http://barabbasayin.blogspot.com/2013/07/pengertian-dan-ruang-lingkup.html

[4] Ahmad Tafsir,2009. Filsafat umum akal dan hati sejak thales
sampai capra.Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Hal 24-28
[5]Achmadi,asmoro,2012. Filsafat umum. PT. Raja grafindo persada, jakarta. Hal 118-119
[6] Hakim, M.A. dan Drs. Bani Ahmad Saebani, M.Si. 2008. filsafat umum dari metologi sampai teofilosofi. Pustaka Setia, Bandung. Hal 206

[7] http://ebookcollage.blogspot.com/2013/06/pengaruh-epistemologi.html

Diposkan oleh MOH NURUL ARIFIN di 06.38 

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN : ONTOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Ontologi merupakan salah satu kajian filsafat yang membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Ontologi membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembahasan realitas.
Ilmu merupakan kegiatan untuk mencari suatu pengetahuan dengan jalan melakukan pengamatan atau pun penelitian, kemudian peneliti atau pengamat tersebut berusaha membuat penjelasan mengenai hasil pengamatan atau penelitiannya tersebut. Dengan demikian, ilmu merupakan suatu kegiatan yang sifatnya operasional. Jadi terdapat runtut yang jelas dari mana suatu ilmu pengetahuan berasal.Karena sifat yang operasional tersebut, ilmu pengetahuan tidak dapat menempatkan diri dengan mengambil bagian dalam pengkajiannya. Maka dari pendahuluan ini saya akan merumuskan masalah apa saja yang ada dalam penjelasan makalah ini.
B.   RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan ontologi?
2.      Bagaimana hubungan ontologi dengan filsafat pendidikan?
3.      Bagaimanakah penerapan ontologi dalam filsafat pendidikan ?
4.      Apa saja aliran-aliran dalam ontology?
5.      Apa manfaat mempelajari ontology?
C.   TUJUAN
1.      Memahami pengertian ontology.
2.      Menjelaskan hubugan antara ontologi dengan filsafat pendidikan.
3.      Memahami penerapan ontologi filsafat menurut bebrapa aliran.
4.      Mengetahui aliran-aliran ontology.
5.      Mengetahui manfaat mempelajari ontology.


BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN ONTOLOGI
Ontologi berasal dari dua jata yaitu ta onta berarti “yang berada”, dan logi berarti “ilmu pengetahuan atau ajaran”. Maka ontology adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang keberadaan. Ontology menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas (wujud) dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisik, hal universal, abstrak) dapat dikatakan dalam rangka tradisional. Ontology sering diidentikan dengan metafisika dan juga disebut proto-filsafia atau filsafat yang pertama, atau filsafat ketuhanan yang bahasanya adalah hakikat sesuatu, persetuan, sebab akibat, realitas, atau Tuhan dengan segala sifatnya. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip dasar atau dalam arti segala sesuatu yang ada. Para ahli memberikan pendapatnya tentang realita itu sendiri, diantaranya Bramel. Ia mengatakan bahwa ontologi ialah interprestasi tentang suatu realita dapat berfariasi, misalnya apakah bentuk dari suatu meja itu substansi dengan kualitas materi, inilah yang dimaksud dari setiap orang bahwa suatu meja itu suatu relita yang konkret. Plat0 mengatakanjika berda di dua dunia yag kita lihat dan kita hayati dengan kelima panca indera kita nampaknya cukup nyata atau real.
B.     Hubungan Ontologi dengan Filsafat Pendidikan
Pendidikan adalah suatu kegiatan yang sadar akan tujuan. Makna dari pendidikan disini bermaksud untuk mencapai tujuan, maka tujuan jadi hal penting dalam penyelenggaraan. Oleh karena itu, pendidikan dikatakan bahwa pendidikan dapat membawa anak menuju kedewasaan, dewasa dari segi jasmani maupun rohani. Dengan mengetahui makna pendidikan maka makna ontology dalam pendidikan itu sendiri merupakan analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Jadi hubungan ontology dengan pendidikan menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu dimana disitulah terletak undang-undang dasarnya dunia ilmu.
Diatas telah disebutkan bahwa pendidikan ditinjau dari sisi ontogy berarti persoalan tentang hakikat keberadaan pendidikan. Oleh sebab itu dapat di pahami bahwa ontology pendidikan berarti pendidikan dalam hubungannya dengan asal mula , eksistensi, dan tujuan kehidupan manusia.tanpa manusia, pendidikan tak pernah ada.


C.     Penerapan Ontology Filsafat Pendidikan
1.      Ontology Progressivisme
Ontology Progressivisme adalah kenyataan dalam pengalaman kehidupan manusia. Pengalaman adalah kunci pengertian manusia atau segala sesuatu, pengalaman manusia tentang penderitaan,kesedihan,kegembiraan, keindahan dan lain-lain adalah realita manusia hidup sampai mati.
Aplikasi pandangan ini terhadap pendidikan adalah pada saat proses pembelajaran agar anak dapat memahami apa yang di pelajari mereka harus memahami secara langsung.
2.      Ontology Essensialisme
Essensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Sifat yang menonjol dari ontology essensialisme adalah suatu konsep bahea dunia ini dikuisai oleh tata yang tiada cela yang mengatur isinya dengan tiada pula. Tujuan umum aliran essensialisme adalah membentuk pribada bahagia di dunia dan di akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pngetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu kehendak manusia. Aplikasinya dalam kegiatan belajar mengajar guru diselipkan nilai keagamaan antara lain berdoa sebelum kegiatan belajar mengajar.
3.      Ontology Pereniaslisme
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses pengembalian keadaan sekarang. Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisi di berbagai kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang diangap cukup ideal dan teruji ketanguhannya.
4.      Ontology Rekontrusionisme
Rekntruksionisme memandang bahwa realita itu bersifat universal, yang mana realita itu ada di mana dan sama disetiap tempat. Aliran rekontruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamat dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Kaitan aliran ini dengan pendidikan adalah pendidikan itu tidak diselenggarakan secara terpusat, melinkan secara universal. Kewajiban pendidik memlui latar belakang ontologis ialah membina daya pikir yang tinggi dan kritis.
D.    ALIRAN-ALIRAN ONTOLOGY
Dalam mempelajari ontologi filsafat pendidikan muncul beberapa aliran-aliran dalam filsafat dan muncul beberapa pertanyaan berupa “apakah yang ada itu?”, “bagaimana yang ada itu?”, “ dimanakah yang ada itu ?”.
1.      Apakah yang ada itu?
Untuk menjawab pertanyaan ini lahirlah lima filsafat , yaitu:  
a.       Aliran monoisme
Aliran ini berpendaat bahwa yang ada itu hanya satu . hanya ada satu sumber hakikat saja baik berupa materi ataupun ruhani.jadi tidak mungkin hakikat itu berdiri bebas sendiri , pasti ada salah satu yang menjadi pokok atau dominan menentukan perkembangan yang lainnya . plato menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan yang sebenarnya .paham ini terbagi ke dalam dua aliran :
·         Matrealisme
Alirani ini menganggap sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut aliran naturalisme. Bahwasanya zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.
·         Idealisme
Idealisme diambil dari kata idea yang ertinya suatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada yang tidak tampak, ia berada dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini di anggap hanya merupakan bayang-bayang, sifatnya sementara, dan selalu menipu.
b.      Aliran Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan roh, jasad dan spiritual. Dua hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini.



c.       Aliran pluralisme
Aliran ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan, bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.
d.      Aliran Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakuai foliditas alternative positif.
e.       Aliran Agnotisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat rohani. Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal.
2.      Bagaimanakah yang ada itu?
Zeno (490-530 SM) menyatakan bahwa suatu itu sebenarnya khayalan belaka, namun Whitehead mengatakan bahwa alam ini dinamis terus bergerak dan merupakan struktur peristiwa yang mengalir terus secara kreatif.
3.      Dimanakah yang ada itu?
Yang ada itu berada dalam alam ide, adi kodrati, universal, tetap abadi, dan abstrak. Sementara aliran matrealisme berpendapat sebaliknya bahwa yang ada itu bersifat fisik kodrati, individual, berubah-rubah dan real.
Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan; untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma- norma moral/professional?

E.     Manfaat Mempelajari Ontologi
Ontology yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu mempunyai beberapa manfaat, diantaranya sebagai berikut :
1.      Membantu untuk mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan sistem pemikiran yang ada.
2.      Membantu memecahkan masalah polarelasi antar baerbagai eksisten dan eksistensi.
3.      Bias mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan maupun masalah, baik itu sains maupun etika.

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1.      Ontology adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas mengenai hakikat dari sesuatu yang ada, dimana hakikat disini ialah pernyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah.
2.      Hubungan antara ontology dengan filsafat pendidikan yaitu dimana ontology menempati posisi landasan yang terdasar dari fondasi ilmu. Sebagai nilai filosofis dari ilmu itu sendiri, sehingga pendidikan memiliki pandangan yang jelas untuk menciptakan manusia yang sesungguhnya.
3.      Aliran monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologi yang pada akhirnya menentukan pendapat dan kenyakinan kita masing-masing tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu.






















DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Idi, jalaluddin. 1997. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Susanto. A. 2001. Filsafat Ilmu. Jakarta: Bumi Aksara.
Surajio.2005.ilmu filsafat suatu pengantar.jakarta:bumi aksara.

Tafsir,Ahmad.2003.filasat umum.bandung;remaja rosdakarya.